Tampilkan postingan dengan label Rasulullah saw. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rasulullah saw. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Februari 2012

PIDATO MLN USMAN ANAS PADA JALSAH SALANAH BALI-NUSRA TANGGAL 10-12 FEBRUARI 2012 (bag II)


RASULULLOHSAW SEBAGAI KHOOTAMANNABIYYIIN

Dari asbabunnuzul/ yang melatarbelakangi turunnya ayat surah alAhzab ayat 40 di atas, teranglah sudah bahwa turunnya ayat Khotamannabiyyin/surah alAhzab ayat 40 adalah sebagai penolakan atau pembelaan dari pihak Alloh swt sendiri terhadap tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh kaum kafir Mekah atau musuh-musuh beliau dan juga musuh-musuh Islam yang bermaksud melecehkan pribadi suci Rsululloh saw karena pernikahan beliau dengan mantan istri Hz. Zaid bin Haritsah yang merupakan anak angkat beliau sendiri. Mereka juga menuduh Rasululloh saw sebagai pribadi yang moralnya rendah (na’udzubillahi min dzalik) karena beliau telah melakukan sesuatu yang mereka sendiri tabu untuk melakukannya karena adat bangsa Arab waktu itu tidak membolehkannya. Demikian pula karena mereka menyaksikan bahwa putra laki-laki rasululloh meninggal semuanya pada masa kanak-kanak, maka dengan sendirinya setelah kewafatan Rasululloh saw Islam  akan hancur dan punah. Untuk itu mereka sangat bergembira dan menertawakan nasib yang akan dialami oleh Rasululloh dan agama Islam yang beliau bawa. Namun Alloh swt tidak membiarkan mereka bergembira dan menertawakan terlalu lama yang pada akhirnya turunlah ayat surah alAhzab ayat 40 di atas sebagai jawaban atas penghinaan dan pelecehan mereka terhadap Rasululloh sekaligus Alloh menghabarkan kepada para sahabat dan orang-orang beriman akan kemuliaan dan martabat Rasululloh saw yang begitu tinggi di sisi Alloh swt.
Pada hakikatnya Rasululloh saw menikahi Siti Zainab ra adalah semata-mata karena perintah dari Alloh swt untuk memenuhi setidak-tidaknya 2 misi utama yang dikehendaki Alloh swt. Untuk terjadinya perubahan di kalangan bangsa Arab saat itu yang sudah berurat berakar dan membudaya :
1.  Merombak sampai ke akar-akar tradisi dan adat-istiadat yang sudah membudaya selama beratus ratus tahun bahwa anak angkat sama dengan anak kandung yang memiliki hak waris seperti anak kandung sendiri.
2.  Supaya orang-orang yang sejak semula memiliki rasa permusuhan dan penentangan kepada Islam dan Rasululloh saw semakin nampak menjadi-jadi dalam permusuhannya sehingga ketetapan Alloh bagi para penentangnya segera diberlakukan.
Seperti apakah pembelaan Alloh swt kepada RasulNya yang termulia dalam bentuk penolakan terhadap tuduhan-tuduhan rendah musuh-musuh beliau?
Marilah kita sama-sama memperhatikan sekali lagi ayat surah alAhzab ayat 40 di atas sbb:
“MAA KAANA MUHAMMADUN ABAA AHADIM MIRRIJAALIKUM WALAAKIR ROSUULALLOOHI WA KHOOTAMANNABIYYIIN”,
Muhammad itu bukanlah bapak salah sorang diantara kamu melainkan Rasul Alloh dan Khotamannabiyyin.
Dari asbabunnuzul di atas kita mengetahui bahwa musuh-musuh Rasululloh saw berusaha merendahkan dan menghinakan beliau dengan tuduhan tidak berketurunan dan melakukan pernikahan yang terlarang dalam tradisi bangsa Arab. Menurut mereka ya’ni para musuh dan penentang beliau, ini merupakan kehinaan dan kerendahan dan tanda kehancuran beliau dan kehancuran misi agama Islam yang beliau perjuangkan sebagai utusan Alloh. Namun Alloh mengkanter dan membuktikan bahwa apa yang mereka tuduhkan itu adalah hayalan kosong mereka, karena Alloh telah memilih beliau sebagai pesuruhNya yang paling dikasihinya diantara semua RasulNya. Beliau bukan saja tidak relevan dengan tuduhan kalian bahwa beliau tidak menjadi bapak anak laki-laki lahiriah tapi beliau adalah bapak rohani seluruh umat manusia bahkan lebih dari itu beliau adalah bapak rohani seluruh nabi dan rasul baik nabi dan rasul yang diutus dimasa lampau maupun nabi dan rasul yang akan diutus dimasa datang.

Ma’na-ma’na Khotam menurut LUGHOT/BAHASA:
Apabila sebuah kalimat bahasa arab diidhofatkan dengan bentuk jamak, maka hal ini selalu menunjukan kepada makna pujian dan keagungan. Sekarang marilah kita perhatikan ungkapan kalimat-kalimat berikut yang di awali dengan kata Khatam :
1.  Plato, dijuluki Khatamul Hukama (Miratusuruh).
2.  Syamsuddin, dijuluki Khatamul Huffadz (At-Tajridus Sharih)
3.  Rasyid Ridho, dijuluki Khatamul Mufassirin (Al-Jamil Al-Islam)
4.  Abu Tammam, dijuluki Khatamus Syu’ara (Wafiatul `Ayan)
5.  Muhammad Abduh dijuluki Khatamul Aimmmah (Tafsir Fatiha)
6.  Imam Suyuti, dijuluki Khatamul Muhaqqiqin (Tafsir Itqan)
7.  Manusia disebut Khatamul Mahluqat Jasmanian (Tafsir Kabir)
8.  Nabi Isa as, dijuluki Khatamus Syifa Al-Aimmah (Baqiyatul Mutaqaddimin)
9.  Syaikh Waliullah Dehlawi, dijuluki Khatamul Muhadditsin (Ujala Nafi)
10.  Abu Hasan Kabus Bin Abi Tahir, dijuluki Khatamul Muluk (Wafiatul `Ayan)

Apabila kita memaknai kata Khatam dengan terakhir atau penutup pada ungkapan kalimat-kalimat diatas tidak dengan makna utama, mulia, terbaik, sempurna, ataupun yang sepadan dengan itu, maka plato yang dijuluki Khatamul Hukama, Syamsuddin Khatamul Huffadz ataupun Rasyid Ridho yang di juluki Khatamul Mufassirin dimaknai dengan Hakim yang terakhir, penghafal terakhir, dan Mufassir terakhir maka kita melihat bahwa sesudah beliau-beliau pun muncul juga para Hakim, para penghapal, dan para Mufassir yang jumlahnya sangat banyak. Oleh karena itu Pemaknaan tersebut tidak tepat, yang tepat adalah bahwa beliau-beliau adalah: hakim utama, penghapal terbaik, dan Mufassir ternama. Demikian juga untuk Abu Tammam, Imam Suyuti, Muhammad Abduh, dan seterusnya.
Empat  Ma’na Khataman Nabiyyin
Menurut arti baik yang tersurat maupun yang tersirat dalam kata Khatam, maka ungkapan kata Khataman Nabiyyin memiliki ma’na-ma’na sebagai berikut:
1. Materai, segel, Cap ataupun stempel bagi para nabi, maksudnya ialah tidak ada nabi yang dianggap benar kalau kenabiannya tidak bermatraikan Rasullulah SAW karena beliau Mushaddiq (yang membenarkan pendakwaan kenabian mereka). Kenabian semua nabi yang sudah lampau harus dibenarkan dan di sahkan oleh beliau kemudaian tidak akan ada seorang pun mencapai derajat kenabian sesudah beliau kecuali dengan cara menjadi pengikut setia beliau.
2. Cincin : maksudnya adalah sebagaimana cincin di pakai sebagai perhiasan, maka Rasullulah SAW merupakan perhiasan bagi sekalian nabi.
3. Afdol, terbaik, termulia dan paling sempurna; maksudnya adalah bahwa beliau adalah nabi terbaik, termulia, dan paling sempurna dari sekalian nabi ditilik dari segi ajaran yang di bawanya maupun luasnya cakupan missi yang diemban beliau yakni untuk seluruh bangsa dan kaum didunia ini.
4. Terakhir atau pemungkas; maksudnya adalah bahwa beliau adalah nabi terakhir atau nabi pamungkas diantara para nabi pembawa syariat. Penafsiran ini sudah diterima oleh para ulama tekemuka seperti: Ibnu Arabi, Syah Waliullah, Imam Ali Qari, Mujaddid AlfTsani, dan lain lain. Rasullulah SAW sebagai akhirul ambiya (Nabi penutup, nabi tiada tandingan, nabi terakhir atau nabi pamungkas) hanya dalam arti kata bahwa semua nilai dan sifat kenabian menjelma dengan sesempurna-sempurnanya dan selengkap-lengkapnya dalam diri beliau. (untuk memahami lebih lanjut ma’na-ma’na tersebut diatas, pembaca bisa menelaah kitab-kitab dari Zurqani, Syarah Muwahib, Al-Laduniyyah, Futuhat, Tafhimat, Maktubat, dan Yawaqit wal Jawahir)...(Mln Qomarudin Sy dan Dendi Ahmad Daud).
HADITS-HADITS YANG MENDUKUNG MA’NA KHOTAMANNABIYYIN BUKANLAH SEBAGAI PENUTUP
1.  Rasululloh saw bersabda:
ANAA KHOOTAMUL ANBIYAA WA ANTA YA ‘ALI KHOOTAMUL AULIYA.
Artinya: Aku adalah khotam para nabi dan engkau hai Ali  adalah khotam para Wali.
Setelah Saidina Ali ternyata banyak Wali-wali Alloh yang muncul termasuk Wali Songo di Tanah Jawa.
2.  ITHMA’ANNI YAA “AMMAA ANAA KHOOTAMUL ANBIYA WA ANTA KHOOTAMUL MUHAAJIRIINA FIL HIJRATI.
Artinya: Berbahagialah wahai paman karena aku adalah khootamannabiyyin dan engkau adalah khotam untuk orang-orang yang berhijrah.
Dalam sejarah diketahui bahwa paman Rasululloh saw yakni Ibnu Abbas adalah orang yang paling pertama berhijrah dari Mekah ke Madinah di antara para Muhajirin yang berhijrah ke Yatsrib/Madinah.
3.  Siti Aisyah ra menyatakan;
QUULUU KHOOTAMANNABIYYIINA WALAA TAQUULUU LAA NABIYYA BA’DAHU.
Artinya; Katakanlah bahwa Rasululloh itu sebagai khotamannbiyyin tapi jangan katakan beliau itu tidak ada nabi sesudahnya.
Siti Aisyah ingin memberikan pengertian kepada semua kaum muslimin bahwa antara khotamannabiyyin dan hadits LAA NABIYYA BA’DI jangan dicampur adukkan karena keduanya memiliki ma’na yang berbeda, sekaligus ada semacam kekhawatiran dari Siti Aisyah ra bahwa kaum muslimin akan menggunakan kedua istilah itu untuk menutup pintu kenabiyan macam a apapun dikemudian hari. Dan ternyata kekhawatiran Siti Aisyah ra menjadi kenyataan.
Walhasil Khotam dengan makna PENUTUP bukan satu-stunya makna  yang melekat pada kata khotamannabiyyin.
Demikianlah uraian tentang Rasululloh sebagai Khotamannabiyyin yang dapat saya sampaikan pada kesempaatan Jalsh Wilayah Bali-Nusra yang penuh berkat ini, lebih dan kurangnya saya mohon maaf yang sebesar besarnya. Wabillahi Taufik wal Hidyah.. Assalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh

PIDATO MLN USMAN ANAS PADA JALSAH SALANAH BALI-NUSRA TANGGAL 10-12 FEBRUARI 2012 (bag I)


RASULULLOH SAW SEBAGAI KHOOTAMANNABIYYIIN

 Bapak-bapak dan ibu-ibu, serta semua peserta jalsah Wilayah Bali-Nusra yang berbahagia.
Assalamu alaikum wr.wb.
Alhamdulillah wa syukrillah, dengan karunia dan rahmat dari Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, pada hari ini kita semua diberi taufik olehNya untuk dapat menghadiri JALSAH WILAYAH BALI-NUSRA yang ke sekian kalinya di aula hotel yang ramah ini. Semoga setiap derap langkah kita menuju tempat ini diberkati olehNya dan mendapat ganjaran yang berlipat ganda. Amin.
Dalam pertemuan yang penuh berkat ini saya yang amat lemah ini mendapat karunia dan diserahi tugas oleh panitia Jalsah untuk menyampaikan ceramah yang temanya adalah RASULULLOH SAW SEBAGAI KHOOTAMANNABIYYIIN.

Bila kita memperhatikan sejarah kehidupan Rasululloh saw., maka selain makam khotamannabiyyin, ada makom-makom lain yang dianugerhkan kepada beliau oleh Alloh swt sebagai bukti keagungan, keluhuran, keistimewaan dan keunggulan beliau dari jajaran semua nabi-nabi dan rasul lainnya yang pernah diutus oleh Alloh swt di tengah-tengah suatu kaum dan bangsa di muka bumi di setiap zaman tertentu.
Sebagai misal, beliau mendapat gelar sebagai ALAMIN yakni wujud yang paling jujur yang pernah ada sejak langit dan bumi diciptakan. Begitu juga beliau digelari oleh Alloh swt dengan seorang wujud  yang memiliki akhlak YANG AGUNG sebagaimana firmanNya dalam alQuranul Karim:WAINNAKA LA’ALA KHULUQIN ‘AZHIIM.
Artinya: Wahai Muhammad engkau adalah wujud yang memiliki akhlak yang AGUNG.

Di dalam hadits Qudsi juga Alloh swt menyebut mengenai keutamaan Rasululloh saw. dari mahluk-mahluk lainnya, firmanNya:
LOULAAKA LAMAA KHOLAQTUL AFLAAQ
Artinya: Kalau bukan karena engkau hai Muhammad Aku tidak akan ciptakan langit dan bumi ini.

Kemudian pada peristiwa Mi’raj Rasululloh saw dari masjidil Haram ke Sidratul Muntaha disana Alloh memperlihatkan keunggulan dan ketinggian derajat rasululloh saw bila dibandingkan dengan semua nabi-nabi lainnya. Dalam peristiwa itu digambarkan bahwa semua nabi-nabi lainnya hanya mencapai langit yang ke tujuh dari ketinggian derajat rohani dan qurub Ilahi mereka,akan tetapi Rasululloh saw melampaui langit rohani yang ke tujuh dan sampai di Sidratul Muntaha dan mencapai qurub Ilahi sedemikian rupa dekatnya sampai menyatu dan melebur dengan wujud Alloh swt. Makom inilah yang difirmankan ALLOH dalam surah Annajem ayat: 8 - 9
TSUMMA DANAA FATADALLAA FAKAANA QOOBA QAUSAINI AU ADNAA.
Yang artinya: Kemudian ia (Rasululloh) mendekat (kehdapan Alloh), maka Alloh pun turun seraya mendekati rasululloh,maka terjadilah pertemuan dan penyatuan serta peleburan secara ruhani, saking dekatnya pertemuan itu maka ia seibarat dua anak panah yang dipersatukan. (Terjemah bebas)

Beberapa contoh di atas menggambarkan KEUTAMAAN DAN KETINGGIAN RASULULLOH SAW dari para nabi dan rosul semuanya.
Merujuk kepada contoh-contoh di atas saya ingin mengatakan kepada hadirin dan hdirat sekalian yang sedang menyimak uraian ini bahwa gelar KHOOTAMANNABIYYIIN yang disandang oleh rasululloh saw juga mengisyaratkan betapa tinggi dan luhurnya kedudukan rasululloh saw di pandangan Alloh swt

Sesuai dengan judul ceramah ini ya’ni RASULULLOH SEBAGAI KHOOTAMANNABIYYIIN, marilah kita simak pembahasan topik ini dengan mengacu kepada firman Alloh swt yang terdapat dalam surah Alahzab ayat 40:
MAA KAANA MUHAMMADUN ABAA AHADIM MIRRIJAALIKUM WALAAKIN RASUULALLOOHI WAKHOOTAMANNABIYYIIN.
Yang artinya, Muhammad itu bukanlah bapak dari salah seorang dari antara kamu melainkan rasul Alloh dan khootamannabiyyiin.
Mengenai makna khotamannabiyyin ada dua pengertian yang mengemuka dikalangan para ulama Islam dewasa ini.
1.  Yang memiliki pemahaman bahwa kata khotam selain artinya penutup ada arti arti lain sesuai dengan konteks kalimatnya dan kedudukannya dalam suatu kalimat tertentu. Pendapat ini adalah dipegang oleh sahabat-sahabat nabi dan para  alim ulama terdahulu seperti  Hz. Aisyah r.a. dan rasululloh saw sendiri.
2.  Yang memiliki pemahaman bahwa kata khotam hanya memiliki arti penutup saja. Pemahaman ini hanya dimiliki oleh ulama masa kini dan kaum muslimin yang mendapat didikan dari mereka
Sebagaimana semua sahabat nabi dan para ulama Islam meyakini bahwa rasululloh saw adalah Khootamannabiyyiin maka pendiri jemaat Ahmadiyh Hz. Misza Ghulam Ahmad as juga meyakini rasululloh saw sebagai khootamannabiyyiin. Marilah kita simak penyataan-pernyataan beliau, diantaranya:
1. Fitnah yang dilontarkan kepadaku dan jemaatku adalah bahwa kami tidak meyakini bahwa Rasululloh saw sebagai khootamannabiyyiin adalah suatu kedustaan yang besar terhadap kami. Dengan keteguhan iman, ma’rifat dan bashirat kami meyakini bahwa Rasululloh saw sebagai khotamannabiyyin...(Alhakam 7 Maret 1905).
2. Di dalam Al-Quran Alloh swt memberikan gelar kepada Rasululloh saw.KHOOTAMANNABIYYIN, kemudian di dalam sabdanya Rasululloh saw menyatakan LAA NABIY YA BA’DI. Alloh swt telah menetapkan bahwa sesudah beliau tidak akan datang nabi dari segi ma’na hakiki. (Kitab Bariyyah, Hal. 185).
3. Sesungguhnya nabi kita adalah Khotamal Anbiya yang tidak ada nabi sesudahnya kecuali yang disinari dengan sinarnya dan penzhahirannya merupakan penzhahiran dari bayangan Rasululloh saw. (Al-istifta, Hal. 22), 1907).
4. Alloh mencintai orang yang menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidupnya yang harus diamalkan dan meyakini bahwa nabiNya Muhammad saw adalah Khotamal Anbiya. (Casmah Ma’rifat , Hal.324, 1908).
5. Tuduhan yang dilontarkan kepadaku adalah bahwasanya aku seolah-olah menda’wakan kenabiyan sedemikian rupa seperti aku tidak ada sangkut pautnya dengan Islam, artinya aku menganggap diriku sebagai nabi yang terpisah sehingga tidak perlu lagi mengikuti al-Quran, membuat kalimah dan kiblat sendiri menyatakan syariat Islam mansukh dan tidak mentaati Rasululloh saw. Tuduhan ini sama sekali tidak benar, bahkan penda’waan seperti itu menurut hematku adalah sebuah pengingkaran. Aku menyatakan bahwa diriku adalah nabi berdasarkan karunia yang dianugrahkan Tuhan dimana aku dapat bercakap-cakap denganNya. Dia sangat sering berbicara dengan menurunkan kalamNya kepadaku, menjawab kata-kataku, dan banyak sekali memperlihatkan hal-hal gaib, membukakan tabir rahasia-rahasia masa yang akan datang dimana manusia seumumnya tidak mendapatkan kedekatan yang khususus ini denganNya, Kepada yang lain Dia tidak membukakan rahasia-rahasia itu. Oleh sebab inilah Dia menamaiku nabi dalam arti nabi ummati (nabi pengikut) supaya nubuatan jungjungan kita nabi Muhammad saw bahwa Isa yang akan datang itu dari umat beliau dan bergelar nabi menjadi sempurna. Kalau tidak, harapan hampa serta khayalan kosong akan menguasai manusia berkenaan dengan kedatangan nabi Isa as, bagaimana bisa beliau menjadi ummati. Apakah setelah turun dari langit ia  akan masuk Islam, lalu sejak itu nabi kita tidak lagi menjadi Khotamannabiyyin? (Surat kabar Lahore, 26 Mei 1908).
Berdasarkan pernyataan-pernyataan beliau tersebut, maka Jemaat Ahmadiyah dalam memahami dan menginterpretasikan topik di atas tetap berada dalam koridor Islam yakni berdasarkan AlQuran suci dan sabda-sabda Rasululloh saw dan para ulama mutaqoddimin dengan didukung oleh pemahaman bahasa Arab baik geramatikal maupun kesusastraannya ketika membahas masalah kedatangan Mahdi dan Masih yang dijanjikan dari kalangan umat beliau saw yang dianugerahi gelar kenabian yaitu nabi ummati Rasululloh saw.
Latar Belakang Turunnya Ayat:
Ayat ini diturunkan pada tahun kelima Hijrah dengan latar belakang menjawab tuduhan dan ejekan bahwa Rasululloh saw adalah abtar (seorang yang tidak memiliki  anak laki-laki dewasa/rijal). Dan kedua adalah pernikahan beliau dengan siti Zainab ra yang merupakan janda dari Zaid ibnu Harits ra, seorang pemuda yang dimerdekakan Rasululloh dan kemudian diambil sebagai putera angkat beliau.
Di Mekah pada waktu itu semua putra Rasululloh saw telah meninggal dunia semasa masih kanak-kanak. Musuh-musuh beliau mengejeknya sebagai abtar yang maksudnya tidak memiliki pelanjut yang akan melestarikan nama beliau. Mereka fikir cepat atau lambat Islam akan berakhir dengan satu kesudahan (bahrul muhit). Alloh swt menjawab secara tegas ejekan mereka seperti tertuang dalam surah al-Kautsar dimana Rasululloh saw bukanlah seorang yang tidak berketurunan melainkan merekalah yang tidak berketurunan..(Dikutif dari tulisan mln Qomarudin Sy dan Dendi Ahmad Daud Yang di Posting di milis Muballighin).

lamjut baca ke: PIDATO MLN USMAN ANAS PADA JALSAH SALANAH BALI-NUSRA TANGGAL 10-12 FEBRUARI 2012 (bag II)

Rabu, 01 Februari 2012

Derajat Muhammad Rasulullah saw




Nur akbar telah dianugrahkan kepada sesosok manusia yang sempurna, dan bukan kepada malaikat, bukan kepada bintang-bintang, bukan kepada bulan, bukan kepada matahari, bukan kepada samudra atau sungai, tidak juga kepada batu mirah, emerald, mutiara atau jamrut, singkatnya bukan kepada benda lain di bumi atau langit.

Nur tersebut hanya bagi wujud suci yang contoh kehidupannya demikian sempurna sebagai penghulu dan junjungan kita, Penghulu segala Nabi, Penghulu semua makhluk hidup, yang terpilih, Muhammad saw. Nur tersebut dikaruniakan kepada manusia suci ini dan sejalan dengan derajat mereka, juga kepada mereka yang memiliki warna yang mendekati sama dengan beliau. Keagungan demikian terdapat dalam bentuknya yang paling sempurna dalam wujud penghulu, junjungan dan pembimbing kita, yang suci Rasulullah Muhammad saw. sebagai insan yang terpilih. (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 160-162, London, 1984).
* * *
Aku selama ini selalu menduga-duga sebenarnya berapa tingginya derajat Nabi dari bangsa Arab yang bernama Muhammad saw. ini. Tidak akan ada yang bisa mencapai ketinggian derajat beliau dan tidak ada manusia yang akan mampu menduga secara tepat keluhuran keruhanian beliau. Sayang sekali belum semua manusia mengakui hal itu sebagaimana mestinya. Beliau itulah pahlawan ruhani yang telah mengembalikan kepada dunia Ketauhidan Ilahi yang telah hilang. Beliau mencintai Tuhan-nya dengan sepenuh hati sedangkan hatinya luluh dalam kasih kepada umat manusia. Karena itulah maka Allah yang mengetahui isi hati beliau, telah mengangkatnya di atas semua Nabi-nabi dan umat manusia dari kelompok awal maupun kelompok akhir, serta menganugerahkan kepada beliau apa pun yang diinginkannya dalam masa hidupnya.
Beliau adalah sumber mata air semua keberkatan dan jika ada manusia yang mengaku dirinya lebih tinggi tanpa mengakui derajat beliau, sesungguhnya ia itu bukan manusia tetapi anak Syaitan. Beliau telah dikaruniakan kunci kepada semua keagungan dan beliau telah dirahmati dengan khazanah dari setiap pemahaman. Mereka yang tidak memperoleh bimbingan melalui beliau, sama dengan orang yang kehilangan segalanya.
Aku ini bukan apa-apa dan tidak memiliki apa pun. Aku akan menjadi orang yang tidak bersyukur jika aku tidak mengaku bahwa aku mendapat pemahaman tentang Ketauhidan Ilahi melalui Rasul ini. Dengan Nur beliau, pengakuan akan adanya wujud dari Tuhan yang Maha Hidup, aku peroleh melalui Rasul yang sempurna ini. Kehormatan untuk bisa berbicara dengan Allah swt. dimana aku bisa memandang Wujud-Nya adalah juga melalui Rasul akbar tersebut. Sinar dari matahari pembimbing ini menerpa tubuhku laiknya sinar surya dan aku akan memperoleh pencerahan terus menerus sepanjang aku tetap terarah kepadanya. (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 22, hal. 118-119, London, 1984).
* * *
Wahai kalian yang bermukim di muka bumi dan wahai jiwa semuanya yang ada di barat atau di timur, aku maklumkan secara tegas bahwa kebenaran haqiqi di dunia ini hanyalah Islam, Tuhan yang benar adalah Allah sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an, sedangkan Rasul yang memiliki hidup keruhanian yang abadi dan sekarang bertahta di atas singgasana keagungan dan kesucian adalah wujud terpilih Muhammad saw.

Bukti dari hidup keruhanian dan keluhuran keagungannya adalah dengan mengikuti dan mencintai beliau maka kita akan menjadi penerima dari Rohul Kudus dan akan dikaruniai berkat bisa bercakap dengan Tuhan dan menyaksikan tanda-tanda samawi. (Tiryaqul Qulub, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 15, hal. 141, London, 1984).
* * *
Manusia yang dalam wujud, perilaku dan sifat-sifatnya serta yang melalui fitrat keruhaniannya yang suci telah memberikan contoh kesempurnaan dalam ketulusan dan keteguhan, dan dikenal sebagai manusia yang sempurna adalah Hadzrat Muhammad saw. Manusia yang paling sempurna, baik sebagai manusia mau pun sebagai seorang Rasul, yang datang membawa berkat akbar, wujud siapa telah menimbulkan kebangkitan kembali keruhanian dan dengan demikian telah menghidupkan kembali dunia, Rasul yang berberkat itu, Khataman Nabiyin, penghulu para muttaqi, terbaik dari antara semua Rasul adalah Muhammad saw. Ya Allah, turunkanlah berkat dan rahmat yang belum pernah Engkau turunkan sebelumnya kepada siapa pun sejak awal masa dunia ini. Jika Rasul akbar ini tidak muncul di dunia maka kami tidak akan memiliki bukti kebenaran dari Rasul-rasul yang berada di bawah derajat beliau seperti Yunus, Ayub, Isa Ibnu Maryam, Maleakhi, Yahya, Zakaria dan lain-lain. Walaupun mereka itu semuanya adalah sosok-sosok orang yang dihormati dan menjadi kekasih Allah swt. namun mereka berhutang budi kepada Rasul akbar ini bahwa mereka kemudian diakui sebagai Nabi-nabi yang benar.
Ya Allah, turunkanlah berkat-Mu atas diri beliau dan para pengikut beliau serta para sahabat beliau. Semua puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. (Itmamul Hujjah, Gulzar Muhammadi Press, Lahore, 1311 H, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 8, hal. 308, London, 1984).
* * *
Kalau kita pertimbangkan secara adil maka dari semua rangkaian para Nabi, kita akan menemukan satu sosok yang paling gagah berani dan amat dikasihi Allah swt., penghulu segala Nabi, kebanggaan dan mahkota para Nabi yang bernama Muhammad Mustafa dan Ahmad Mujtaba. Jika seseorang berjalan di bawah naungan bayangan beliau selama sepuluh hari maka ia akan memperoleh Nur yang sebelumnya tidak akan pernah didapatnya dalam seribu tahun. Kami telah menemukan berbagai Nur dengan cara menteladani Nabi Suci ini dan siapa pun akan menemukan hal yang sama jika menteladani beliau, karena ia akan memperoleh keridhoan Allah swt. sehingga tidak ada sesuatu apa pun lagi yang tidak mungkin baginya. Allah yang Maha Hidup yang tersembunyi dari manusia, akan menjadi Tuhan-nya dan semua tuhan palsu akan diinjak-injak di bawah kakinya. Ia akan diberkati di mana-mana dan Kekuasaan Ilahi akan mengikutinya. Salam bagi mereka yang mengikuti bimbingan ini. (Siraj Munir, Ziaul Islam Press, Qadian, 1897, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 12, hal. 82-83, London, 1984).
* * *
Di bawah langit ini hanya ada satu Rasul dan hanya ada satu Kitab. Rasul itu adalah Hadzrat Muhammad saw. yang lebih luhur dan agung serta paling sempurna dibanding semua Rasul, beliau adalah Khataman Nabiyin, manusia yang terbaik dimana jika kita menteladaninya maka kita akan bertemu dengan Allah swt. dan semua tabir kegelapan akan terangkat serta kita akan bisa menyaksikan keselamatan haqiqi bahkan ketika masih di dunia ini.
Kitab tersebut adalah Al-Qur’an yang merangkum bimbingan yang benar dan sempurna, melalui mana manusia bisa memperoleh pengetahuan dan pemahaman Ilahi dan hati menjadi bersih dari segala kelemahan manusiawi serta diangkat kerak kebodohan, keacuhan dan keraguannya sehingga ia mampu mencapai tingkat kepastian yang paling sempurna. (Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 557-558, London, 1984).
* * *
Ada berjuta-juta manusia yang berfitrat bersih di dunia ini dan masih akan banyak pula ditemui di masa depan, namun manusia terbaik yang pernah ditemui serta hamba Allah yang paling mulia adalah Muhammad saw. saja.

Sesungguhnya Allah mengirimkan rahmat-Nya kepada Nabi ini dan para malaikat-Nya mendoakan dia. Hai orang-orang mukmin, kamu pun harus mengirimkan salawat atas dia, Nabi ini, dan sampaikanlah salam kepadanya dengan doa keselamatan”. (QS.Al-Ahzab:57).
Kita sementara tidak perhatikan orang-orang suci yang penjelasannya tidak terlalu lengkap di dalam Al-Qur’an. Kita konsentrasikan perhatian kepada para Rasul yang disebutkan di dalam Al-Qur’an seperti Musa, Daud, Isa dan Nabi-nabi lain, salam atas mereka semua. Kami bersumpah dengan memanggil Allah sebagai saksi bahwa jika Hadzrat Rasulullah saw. tidak turun di dunia ini dan Al-Qur’an tidak diwahyukan, dan kami tidak ada menyaksikan segala berkat yang telah kami saksikan, maka kebenaran dari semua Rasul-rasul lainnya akan tetap merupakan suatu hal yang meragukan di kalbu kami.
Tidak ada realitas yang bisa diungkapkan dari dongeng-dongeng yaqng beredar karena bisa jadi cerita itu tidak benar dan bisa saja semua mukjizat yang diakukan kepada masing-masing Rasul tersebut merupakan hal yang dilebih-lebihkan karena tidak ada tandanya yang tersisa di zaman ini. 
Dari Kitab-kitab lama tersebut kami pun tidak akan mungkin bisa meyakini secara pasti bahwa Tuhan itu benar ada, karena kami tidak diberi keyakinan bahwa Tuhan memang berbicara kepada manusia. Namun dengan kedatangan Hadzrat Rasulullah saw. maka semua cerita tersebut menjadi kenyataan. Kita tidak meyakininya semata-mata sebagai suatu pernyataan saja tetapi sebagai hasil pengalaman dari apa yang namanya berbicara dengan Tuhan, bagaimana tanda-tanda Tuhan dimanifestasikan dan bagaimana doa-doa dikabulkan. Semua hal ini telah kami temui karena menteladani Hadzrat Rasulullah saw. sedangkan apa yang diungkapkan orang-orang sebagai cerita, kami malah telah menyaksikannya. Kami telah melekatkan diri kami kepada seorang Rasul yang telah memanifestasikan Tuhan kepada kami.
Seorang penyair mengemukakannya sebagai:
Muhammad dari Arab, Raja dua dunia,
dengan perbatasan yang dijaga Rohul Kudus.
Aku tak kan menyebutnya Tuhan, namun
mengenali wujudnya adalah mengenal Tuhan.
 
Bagaimana caranya kami bisa bersyukur kepada Allah swt. yang telah mengaruniakan rezeki mulia untuk menjadi pengikut seorang Rasul yang menjadi matahari bagi kalbu manusia yang muttaqi sebagaimana laiknya sang surya bagi tubuh kita. Beliau muncul di saat kegelapan dan telah mencerahkan dunia dengan Nur beliau. Beliau tidak ada merasa lelah dan pegal sampai telah dibersihkannya jazirah Arab dari perbuatan menyekutukan Allah swt. Beliau adalah bukti dari kebenaran wujud beliau sendiri karena Nur beliau tetap kemilau di segala zaman, sedangkan kepatuhan sepenuhnya kepada beliau akan menyucikan seseorang sebagaimana air jernih sebuah sungai membersihkan kain yang kotor. Siapakah yang telah datang kepada kami dengan hati yang tulus dan masih juga belum menyaksikan Nur tersebut, padahal sebelumnya ia telah mengetuk di pintu yang sama tanpa hasil? Hanya saja sayangnya kebanyakan manusia lebih memilih kehidupan akhlak yang rendah dan tidak menginginkan adanya Nur masuk ke dalam batinnya. (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 301-303, London, 1984).
Sumber : http://ahmadiyya.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=94:derajat-muhammad-rasulullah-saw&catid=38:muhammad-saw&Itemid=55

Senin, 09 Januari 2012

Cinta Rasul

Ini ada kisah menarik dari sebuah buku yang saya baca. Semoga menjadikan kita semakin mencintai Nabi Muhammad, Rosululloh saw.

Alloh huma sholi ala Muhammad wa ala alaihi Muhammad.
Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.
Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ.
Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya.
“Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat:
pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya;
kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.
“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.”

Kisah ini saya dengar dari Kiai Madura, D. Zawawi Imran, membuat bulu kuduk saya merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Alloh swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Alloh. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasululloh saw?

Diketik ulang dari buku “Rindu Rosul”, karangan Jalaluddin Rakhmat,
penerbit Rosda Bandung, hal 31-33.
cetakan pertama September 2001.

Selasa, 20 Desember 2011

Kisah Nabi Muhamad saw dan Para Sahabatnya

Dan orang-orang yang terdahulu; yang mula-mula dari orang-orang “Muhajirin” dan “Ansar” (berhijrah dan memberi bantuan), dan orang-orang yang menurut (jejak langkah) mereka dengan kebaikan (iman dan taat), Allah reda kepada mereka dan mereka pula reda kepada Nya, serta Dia menyediakan untuk mereka syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; itulah kemenangan yang besar. (Surah At-Taubah, Ayat 100)
  • Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w telah bersabda: "Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga saling menyayangi antara satu sama lain. Mahukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling menyayangi antara satu sama lain? Sebarkanlah salam sebanyak-banyaknya diantara kalian" - (Muslim)

Sifat-Sifat Nabi Muhammad SAW

Fizikal Nabi
Telah dikeluarkan oleh Ya'kub bin Sufyan Al-Faswi dari Al-Hasan bin Ali ra. katanya: Pernah aku menanyai pamanku (dari sebelah ibu) Hind bin Abu Halah, dan aku tahu baginda memang sangat pandai mensifatkan perilaku Rasulullah SAW, padahal aku ingin sekali untuk disifatkan kepadaku sesuatu dari sifat beliau yang dapat aku mencontohinya, maka dia berkata:

Adalah Rasulullah SAW itu seorang yang agung yang senantiasa diagungkan, wajahnya berseri-seri layak bulan di malam purnamanya, tingginya cukup tidak terialu ketara, juga tidak terlalu pendek, dadanya bidang, rambutnya selalu rapi antara lurus dan bergelombang, dan memanjang hingga ke tepi telinganya, lebat, warnanya hitam, dahinya luas, alisnya lentik halus terpisah di antara keduanya, yang bila baginda marah kelihatannya seperti bercantum, hidungnya mancung, kelihatan memancar cahaya ke atasnya, janggutnya lebat, kedua belah matanya hitam, kedua pipinya lembut dan halus, mulutnya tebal, giginya putih bersih dan jarang-jarang, di dadanya tumbuh bulu-bulu yang halus, tengkuknya memanjang, berbentuk sederhana, berbadan besar lagi tegap, rata antara perutnya dan dadanya, luas dadanya, lebar antara kedua bahunya, tulang belakangnya besar, kulitnya bersih, antara dadanya dan pusatnya dipenuhi oleh bulu-bulu yang halus, pada kedua teteknya dan perutnya bersih dari bulu, sedang pada kedua lengannya dan bahunya dan di atas dadanya berbulu pula, lengannya panjang, telapak tangannya lebar, halus tulangnya, jari telapak kedua tangan dan kakinya tebal berisi daging, panjang ujung jarinya, rongga telapak kakinya tidak menyentuh tanah apabila baginda berjalan, dan telapak kakinya lembut serta licin tidak ada lipatan, tinggi seolah-olah air sedang memancar daripadanya, bila diangkat kakinya diangkatnya dengan lembut (tidak seperti jalannya orang menyombongkan diri), melangkah satu-satu dan perlahan-lahan, langkahnya panjang-panjang seperti orang yang melangkah atas jurang, bila menoleh dengan semua badannya, pandangannya sering ke bumi, kelihatan baginda lebih banyak melihat ke arah bumi daripada melihat ke atas langit, jarang baginda memerhatikan sesuatu dengan terlalu lama, selalu berjalan beriringan dengan sahabat-sahabatnya, selalu memulakan salam kepada siapa yang ditemuinya.


Kebiasaan Nabi

Kataku pula: Sifatkanlah kepadaku mengenai kebiasaannya!Jawab pamanku: Adalah Rasulullah SAW itu kelihatannya seperti orang yang selalu bersedih, senantiasa banyak berfikir, tidak pernah beristirshat panjang, tidak berbicara bila tidak ada keperluan, banyak diamnya, memulakan bicara dan menghabiskannya dengan sepenuh mulutnva, kata-katanya penuh mutiara mauti manikam, satu-satu kalimatnya, tidak berlebih-lebihan atau berkurang-kurangan, lemah lembut tidak terlalu kasar atau menghina diri, senantiasa membesarkan nikmat walaupun kecil, tidak pernah mencela nikmat apa pun atau terlalu memujinya, tiada seorang dapat meredakan marahnya, apabila sesuatu dari kebenaran dihinakan sehingga dia dapat membelanya.

Dalam riwayat lain, dikatakan bahwa baginda menjadi marah kerana sesuatu urusan dunia atau apa-apa yang bertalian dengannya, tetapi apabila baginda melihat kebenaran itu dihinakan, tiada seorang yang dapat melebihi marahnya, sehingga baginda dapat membela kerananya. Baginda tidak pernah marah untuk dirinya, atau membela sesuatu untuk kepentingan dirinya, bila mengisyarat diisyaratkan dengan semua telapak tangannya, dan bila baginda merasa takjub dibalikkan telapak tangannya, dan bila berbicara dikumpulkan tangannya dengan menumpukan telapak tangannya yang kanan pada ibu jari tangan kirinya, dan bila baginda marah baginda terus berpaling dari arah yang menyebabkan ia marah, dan bila baginda gembira dipejamkan matanya, kebanyakan ketawanya ialah dengan tersenyum, dan bila baginda ketawa, baginda ketawa seperti embun yang dingin.


Berkata Al-Hasan lagi: Semua sifat-sifat ini aku simpan dalam diriku lama juga. Kemudian aku berbicara mengenainya kepada Al-Husain bin Ali, dan aku dapati ianya sudah terlebih dahulu menanyakan pamanku tentang apa yang aku tanyakan itu. Dan dia juga telah menanyakan ayahku (Ali bin Abu Thalib ra.) tentang cara keluar baginda dan masuk baginda, tentang cara duduknya, malah tentang segala sesuatu mengenai Rasulullah SAW itu.


Rumah Nabi

Berkata Al-Hasan ra. lagi: Aku juga pernah menanyakan ayahku tentang masuknya Rasulullah SAW lalu dia menjawab: Masuknya ke dalam rumahnya bila sudah diizinkan khusus baginya, dan apabila baginda berada di dalam rumahnya dibagikan masanya tiga bagian. Satu bagian khusus untuk Allah ta'ala, satu bagian untuk isteri-isterinya, dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Kemudian dijadikan bagian untuk dirinya itu terpenuh dengan urusan di antaranya dengan manusia, dihabiskan waktunya itu untuk melayani semua orang yang awam maupun yang khusus, tiada seorang pun dibedakan dari yang lain.

Di antara tabiatnya ketika melayani ummat, baginda selalu memberikan perhatiannya kepada orang-orang yang terutama untuk dididiknya, dilayani mereka menurut kelebihan diri masing-masing dalam agama. Ada yang keperluannya satu ada yang dua, dan ada yang lebih dari itu, maka baginda akan duduk dengan mereka dan melayani semua urusan mereka yang berkaitan dengan diri mereka sendiri dan kepentingan ummat secara umum, coba menunjuki mereka apa yang perlu dan memberitahu mereka apa yang patut dilakukan untuk kepentingan semua orang dengan mengingatkan pula: "Hendaklah siapa yang hadir menyampaikan kepada siapa yang tidak hadir. Jangan lupa menyampaikan kepadaku keperluan orang yang tidak dapat menyampaikannya sendiri, sebab sesiapa yang menyampaikan keperluan orang yang tidak dapat menyampaikan keperluannya sendiri kepada seorang penguasa, niscaya Allah SWT akan menetapkan kedua tumitnya di hari kiamat", tiada disebutkan di situ hanya hal-hal yang seumpama itu saja.


Baginda tidak menerima dari bicara yang lain kecuali sesuatu untuk maslahat ummatnya. Mereka datang kepadanya sebagai orang-orang yang berziarah, namun mereka tiada meninggalkan tempat melainkan dengan berisi. Dalam riwayat lain mereka tiada berpisah melainkan sesudah mengumpul banyak faedah, dan mereka keluar dari majelisnya sebagai orang yang ahli dalam hal-ihwal agamanya.


Luaran Nabi

Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Kemudian saya bertanya tentang keadaannya di luar, dan apa yang dibuatnya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW ketika di luar, senantiasa mengunci lidahnya, kecuali jika memang ada kepentingan untuk ummatnya. Baginda selalu beramah-tamah kepada mereka, dan tidak kasar dalam bicaranya. Baginda senantiasa memuliakan ketua setiap suku dan kaum dan meletakkan masing-masing di tempatnya yang layak. Kadang-kadang baginda mengingatkan orang ramai, tetapi baginda senantiasa menjaga hati mereka agar tidak dinampakkan pada mereka selain mukanya yang manis dan akhlaknya yang mulia. Baginda selalu menanyakan sahabat-sahabatnya bila mereka tidak datang, dan selalu bertanyakan berita orang ramai dan apa yang ditanggunginya. Mana yang baik dipuji dan dianjurkan, dan mana yang buruk dicela dan dicegahkan.

Baginda senantiasa bersikap pertengahan dalam segala perkara, tidak banyak membantah, tidak pernah lalai supaya mereka juga tidak suka lalai atau menyeleweng, semua perkaranya baik dan terjaga, tidak pernah meremehkan atau menyeleweng dari kebenaran, orang-orang yang senantiasa mendampinginya ialah orang-orang paling baik kelakuannya, yang dipandang utama di sampingnya, yang paling banyak dapat memberi nasihat, yang paling tinggi kedudukannya, yang paling bersedia untuk berkorban dan membantu dalam apa keadaan sekalipun.


Majlis Nabi

Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya lalu bertanya pula tentang majelis Nabi SAW dan bagaimana caranya ? Jawabnya: Bahwa Rasulullah SAW tidak duduk dalam sesuatu majelis, atau bangun daripadanya, melainkan baginda berzikir kepada Allah SWT baginda tidak pernah memilih tempat yang tertentu, dan melarang orang meminta ditempatkan di suatu tempat yang tertentu. Apabila baginda sampai kepada sesuatu tempat, di situlah baginda duduk sehingga selesai majelis itu dan baginda menyuruh membuat seperti itu. Bila berhadapan dengan orang ramai diberikan pandangannya kepada semua orang dengan sama rata, sehingga orang-orang yang berada di majelisnya itu merasa tiada seorang pun yang diberikan penghormatan lebih darinya. Bila ada orang yang datang kepadanya kerana sesuatu keperluan, atau sesuatu masliahat, baginda terus melayaninya dengan penuh kesabaran hinggalah orang itu bangun dan kembali.

Baginda tidak pernah menghampakan orang yang meminta daripadanya sesuatu keperluan, jika ada diberikan kepadanya, dan jika tidak ada dijawabnya dengan kata-kata yang tidak mengecewakan hatinya. Budipekertinya sangat baik, dan perilakunya sungguh bijak. Baginda dianggap semua orang seperti ayah, dan mereka dipandang di sisinya semuanya sama dalam hal kebenaran, tidak berat sebelah. Majelisnya semuanya ramah-tamah, segan-silu, sabar menunggu, amanah, tidak pemah terdengar suara yang tinggi, tidak dibuat padanya segala yang dilarangi, tidak disebut yang jijik dan buruk, semua orang sama kecuali dengan kelebihan taqwa, semuanya merendah diri, yang tua dihormati yang muda, dan yang muda dirahmati yang tua, yang perlu selalu diutamakan, yang asing selalu didahulukan.


Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya pun lalu menanyakan tentang kelakuan Rasulullah SAW pada orang-orang yang selalu duduk-duduk bersama-sama dengannya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW selalu periang orangnya, pekertinya mudah dilayan, seialu berlemah-lembut, tidak keras atau bengis, tidak kasar atau suka berteriak-teriak, kata-katanya tidak kotor, tidak banyak bergurau atau beromong kosong segera melupakan apa yang tiada disukainya, tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadanya, tidak suka menjadikan orang berputus asa. Sangat jelas dalam perilakunya tiga perkara yang berikut. Baginda tidak suka mencela orang dan memburukkannya. Baginda tidak suka mencari-cari keaiban orang dan tidak berbicara mengenai seseorang kecuali yang mendatangkan faedah dan menghasilkan pahala.


Apabila baginda berbicara, semua orang yang berada dalam majelisnya memperhatikannya dengan tekun seolah-olah burung sedang tertengger di atas kepala mereka. Bila baginda berhenti berbicara, mereka baru mula berbicara, dan bila dia berbicara pula, semua mereka berdiam seribu basa. Mereka tidak pernah bertengkar di hadapannya. Baginda tertawa bila dilihatnya mereka tertawa, dan baginda merasa takjub bila mereka merasa takjub. Baginda selalu bersabar bila didatangi orang badwi yang seringkali bersifat kasar dan suka mendesak ketika meminta sesuatu daripadanya tanpa mahu mengalah atau menunggu, sehingga terkadang para sahabatnya merasa jengkel dan kurang senang, tetapi baginda tetap menyabarkan mereka dengan berkata: "Jika kamu dapati seseorang yang perlu datang, hendaklah kamu menolongnya dan jangan menghardiknya!". Baginda juga tidak mengharapkan pujian daripada siapa yang ditolongnya, dan kalau mereka mau memujinya pun, baginda tidak menggalakkan untuk berbuat begitu. Baginda tidak pernah memotong bicara sesiapa pun sehingga orang itu habis berbicara, lalu barulah baginda berbicara, atau baginda menjauh dari tempat itu.


Diamnya Nabi

Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Saya pun menanyakan pula tentang diamnya, bagaimana pula keadaannya? Jawabnya: Diam Rasulullah SAW bergantung kepada mempertimbangkan empat hal, yaitu: Kerana adab sopan santun, kerana berhati-hati, kerana mempertimbangkan sesuatu di antara manusia, dan kerana bertafakkur. Adapun sebab pertimbangannya ialah kerana persamaannya dalam pandangan dan pendengaran di antara manusia. Adapun tentang tafakkurnya ialah pada apa yang kekal dan yang binasa. Dan terkumpul pula dalam peribadinya sifat-sifat kesantunan dan kesabaran. Tidak ada sesuatu yang boleh menyebabkan dia menjadi marah, ataupun menjadikannya membenci. Dan terkumpul dalam peribadinya sifat berhati-hati dalam empat perkara, iaitu: Suka membuat yang baik-baik dan melaksanakannya untuk kepentingan ummat dalam hal-ehwal mereka yang berkaitan dengan dunia mahupun akhirat, agar dapat dicontohi oleh yang lain. Baginda meninggalkan yang buruk, agar dijauhi dan tidak dibuat oleh yang lain. Bersungguh-sungguh mencari jalan yang baik untuk maslahat ummatnya, dan melakukan apa yang dapat mendatangkan manfaat buat ummatnya, baik buat dunia ataupun buat akhirat.

(Nukilan Thabarani - Majma'uz-Zawa'id 8:275)

Rasulullah saw. Adalah Dokter Terbaik

Berbicara tentang kesehatan selalu tidak lepas dengan peran ahli kesehatan. Jika dahulu kita mengenal adanya tabib maka kini profesi itu sudah melekat pada dokter. Secara teori, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Siti Nafsiah, 2000). Namun kesehatan menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing orang karena dalam Islam telah ditekankan pentingnya menjaga kesehatan sebagai bagian dari ibadah.
Bahkan, kesehatan pun menjadi tanggung jawab pemerintah sesuai dengan Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan yang menyebutkan bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk. Tanggung jawab ini saling bersinergi demi terwujudnya derajat kesehatan yang optimal berada di tangan seluruh masyarakat Indonesia, pemerintah, dan juga pihak swasta secara bersama-sama. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang. Dan kesehatan pun merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum (UU RI No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran).
Dr. Zaidul Akbar telah membagi konsep pengobatan menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu pengobatan konvensional (rekayasa manusia), pengobatan alami (interaksi manusia dengan alam), dan pengobatan nabi (diturunkan dari Sang Maha). Pengobatan konvensional sudah kita ketahui bersama, pasti menggunakan jasa dokter, dan peran dokter yang sebenarnya adalah sebuah profesi yang dilaksanakan berdasarkan suatu keilmuan, kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan yang berjenjang, dan kode etik yang bersifat melayani masyarakat. Mereka harus menyadari bahwa kesehatan adalah bagian dari hak asasi manusia yang harus diwujudkan dalam bentuk pemberian berbagai upaya kesehatan kepada seluruh masyarakat.
Namun, di luar konteks kesehatan dan profesi kedokteran di atas, Rasulullah saw. adalah dokter terbaik dan pelaku kesehatan yang patut diteladani. Rasulullah saw. adalah manusia yang sempurna dari sisi kesehatan jasmani maupun rohani.  Rasulullah saw. adalah manusia yang paling sehat dan hanya mengalami sakit 2 (dua) kali saja, yaitu ketika beliau diracun oleh seorang Yahudi dan menjelang kematiannya. Rasulullah saw. adalah manusia yang tidak pernah meminum obat-obatan sintetik dan tidak pernah pergi berobat, kecuali hanya menjalani bekam.
Apa rahasia beliau hingga bisa menjadi manusia paripurna dari sisi kesehatan? Rahasia hidup sehat Rasulullah saw. ternyata terletak pada POLA HIDUP, POLA MAKAN, dan SIKAP. Ketiga rahasia itu telah menyatu dalam diri beliau sehingga kesehatan tubuhnya pun terjaga sepanjang hidupnya. Dan yang paling sederhana dari semua rahasia itu terletak pada bibir beliau. Sebuah senyuman. Tingkatan yang lebih tinggi lagi adalah tertawa. Perlu diketahui bahwa hanya dengan satu menit tertawa, kamu akan memperoleh manfaat yang sama dengan 45 menit berolahraga mengeluarkan keringat. Tertawa alami, tertawa disengaja, atau dipaksa tertawa juga mempunyai efek yang sama.
Kamu boleh terkejut, berdasarkan penelitian para ahli kesehatan, tertawa itu akan memberikan efek yang luar biasa. Beberapa diantaranya adalah melancarkan aliran darah, mengurangi resiko penyakit jantung, meningkatkan daya tahan tubuh, menghasilkan hormon endorfin sebagai obat penenang alami, memijat paru-paru dan jantung, menurunkan stres, meningkatkan kadar oksigen (O2) dalam darah, mengkontraksikan 80 titik saraf, melemaskan otot-otot, meringankan konstipasi, dan menurunkan tekanan darah.
Itu baru tersenyum dan tertawa. Dari pola tidur Rasulullah saw. pun diketahui bahwa beliau selalu tidur di awal malam dan bangun pada dua pertiga malam. Posisi beliau tidur pun selalu miring ke kanan dan tidak pernah tidur dalam keadaan kenyang. Beliau pun bahkan cenderung berwudhu terlebih dahulu sebelum tidur. Apa yang dilakukan Rasulullah saw. ketika tidur itu jelas sangat berpengaruh pada kesehatannya. Begitupula dengan berwudhu secara sempurna. Penelitian di Universitas Alexandria oleh dr. Musthafa Syahatah, salah seorang dekan Fakultas THT, menunjukkan bahwa jumlah kuman pada orang yang berwudhu lebih sedikit dari pada orang yang tidak berwudhu.
Masih banyak lagi kebiasaan Rasulullah saw. yang berefek pada kesehatannya. Beberapa diantaranya adalah bersiwak (yang dapat mencegah caries dan berefek ke beberapa organ penting seperti jantung, serta mampu meningkatkan fungsi pencernaan yang akan berdampak pada kesehatan organ pencernaan), mencukur bulu kemaluan karena di sanalah parasit Sarcoptes scabei akan berkembang biak, atau memotong kuku. Bukankah sunnah fitrah yang diajarkan Islam itu ada 5 (lima), yaitu khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan memendekkan kumis (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah, Imam Ahmad, dan Imam Malik)?
Untuk itu, marilah menjalankan pola hidup sehat dan terus menjaga kesehatan kita.[]

Keagungan & Kerendahan Hati Rasulullah saw


Kedua nama Nabi Suci s.a.w. yang berberkat yaitu Muhammad dan Ahmad memiliki dua keunggulan yang berbeda. Muhammad mengandung arti yang amat dipuji dan menggambarkan keagungan dan kebesaran serta menyiratkan seseorang yang dicintai karena hanya yang dicintailah yang selalu dipuji-puji. Adapun kata Ahmad menyiratkan seseorang yang mencintai karena merupakan bagian dari seorang pencinta untuk memuji dan ia selalu memuji sosok yang dikasihinya. Jika Muhammad menggambarkan keagungan dan kebesaran maka Ahmad menggambarkan kerendahan hati.

Kehidupan beliau sebagai seorang Nabi terbagi dalam dua bagian, sebagian dihabiskan di Mekah untuk jangka waktu tigabelas tahun dan sebagian lainnya di Medina yang memakan waktu sepuluh tahun. Kehidupan beliau di Mekah menggambarkan segi nama Ahmad dari sosok beliau. Jangka waktu tersebut banyak dihabiskan dalam meratap dan memohon pertolongan di dalam doa. Barangsiapa yang memahami periode kehidupan Mekah dari beliau tentunya mengetahui betapa ratapan dan permohonan doa yang dilakukan beliau saat itu yang tidak ada padanannya pada pencinta lain yang sedang mencari kekasihnya. Ratapan beliau bukanlah untuk dirinya pribadi tetapi karena kesadaran beliau akan kondisi dunia pada saat itu. Zaman itu penyembahan Allah s.w.t. telah sirna sedangkan Dia telah menanamkan keimanan dalam jiwa beliau yang memberikan kegembiraan dan kesukaan. Dengan sendirinya beliau ingin menyampaikan kegembiraan dan kasih ini kepada dunia, namun ketika beliau menyadari kondisi daripada dunia serta kemampuan dan fitrat manusia saat itu maka beliau menghadapi rintangan yang amat besar. Beliau menangisi kondisi dunia ini sedemikian rupa sehingga nyawa beliau pun terancam. Hal ini diindikasikan dalam ayat:

“Boleh jadi engkau akan membinasakan dirimu sendiri dari dukacita karena mereka tidak mau beriman”. (S.26 Asy-Syuara:4).

Periode ini merupakan kehidupan berdoa beliau dan menjadi manifestasi dari nama beliau sebagai Ahmad. Setelah itu beliau mengkonsentrasikan diri secara agung dan konsentrasi ini menunjukkan efeknya pada kehidupan beliau di Medina ketika signifikasi nama Muhammad diungkapkan sebagaimana dinyatakan dalam ayat:

“Mereka itu berdoa untuk kemenangan dan binasalah setiap musuh kebenaran yang merajalela lagi keras kepala itu”. (S.14 Ibrahim:16).(Malfuzat, vol. II, hal. 178-179).* * *

Mereka yang terbiasa dengan cara pengungkapan dalam Al-Qur’an umumnya mengetahui bahwa kadang-kadang yang Maha Agung dan Maha Pengasih menggunakan ekspresi yang kelihatannya seperti merendahkan hamba-Nya yang khusus padahal konteksnya menggambarkan pujian yang tinggi. Sebagaimana difirmankan Allah s.w.t. mengenai Hadzrat Rasulullah s.a.w. bahwa:

“Dia dapati engkau dalam keadaan hilang dan Dia memberi engkau petunjuk”. (S.93 Adh-Dhuha:8).

Arti kata “Dhall”. pada dasarnya berarti seseorang yang salah jalan atau tersesat sehingga arti harfiah dari ayat tersebut adalah “Tuhan mendapati engkau dalam keadaan tidak tahu jalan lalu Dia menunjuki”. padahal nyatanya Hadzrat Rasulullah s.a.w. tidak pernah salah jalan atau tersesat. Seorang Muslim yang mempercayai bahwa kapan pun dalam hidup Hadzrat Rasulullah s.a.w. beliau itu pernah tersesat adalah seorang kafir yang tidak beriman dan patut dihukum. Konteks daripada ayat itu bermaksud:

“Tidakkah Dia mendapati engkau yatim lalu Dia memelihara engkau, dan Dia mendapati engkau sirna dalam kecintaan kepada Wujud-Nya dan Dia menarik engkau kepada-Nya, dan Dia mendapati diri engkau berkekurangan lalu Dia memperkaya engkau”. (S.93 Adh-Dhuha:7-9).(Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 170-171, London, 1984).

Popular Posts

Tukeran Link

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons