Kamis, 01 Maret 2012

Keadilan Untuk Seorang Abdus Salam: Muslim Pertama Peraih Nobel Fisika

abdus salam Keadilan Untuk Seorang Abdus Salam: Muslim Pertama Peraih Nobel Fisika
Prof Dr Abdus Salam


Dr. Abdus Salam – yang lahir di Pakistan, 29 Januari 1926 merupakan saintis Islam terbesar dan ilmuwan muslim pertama yang mendapatkan hadiah Nobel paling bergengsi di bidang fisika atom di tengah terpuruknya sains Islam dalam lima abad terakhir – demikian pujian yang disematkan Harian Islam Terbesar di Indonesia, Republika, untuk sosok Abdus Salam. Suatu hal yang sangat beralasan dan membuat kita bangga sebagai seorang muslim karena memiliki ilmuwan muslim seperti beliau. Tetapi apakah kebanggan itu akan tetap ada jika ternyata Abdus Salam itu adalah seorang pengikut Ahmadiyah? tulisan dibawah ini adalah ulasan dari Mike Ghouse tentang sosok Abdus Salam yang justru tidak mendapatkan penghormatan yang semestinya ia dapatkan hanya karena beliau seorang penganut Ahmadiyah.

Ulasan Hadiah Nobel dari kalangan Muslim: Dr. Abdus Salam

Oleh: Mike Ghouse
Adalah suatu hal yang memalukan dimana banyak orang Pakistan (saya banyak berinteraksi dengan mereka) yang ‘dicekoki’ pemikiran oleh pemerintah mereka bahwa orang ahmadiyah adalah bukan Islam.

Memalukan lagi, mereka bukan saja telah kehilangan kemerdekaan berpolitik, namun mereka juga telah kehilangan akal. Sebagai seorang muslim, saya kecewa bahwa Pemerintah Pakistan telah menghilangkan kata “muslim” kepada pemenang nobel alm. Dr. Abdus Salam, yang merupakan satu satunya warga Pakistan peraih nobel, bahkan menghapus kata “muslim” pada batu nisan beliau. Sungguh hal yang sangat memalukan. Beliau adalah kebanggan Negara Pakistan, namun tidak satupun menteri atau pejabat Negara yang menghadiri pemakaman beliau. Saya membayangkan seandainya beliau tinggal di Negara Amerika, pasti beliau akan mendapatkan segala penghormatan yang pantas beliau terima.

Padahal orang Muslim yang sama setiap hari melafazkan bahwa Allah adalah penguasa hari pembalasan (maaliki yaumiddin, pent), dan Allah sendiri yang menjadi hakim terhadap ibadah kita yang dilakukan 17 sampai 51 kali sehari. Untuk apa? Sir Dr. Allama Muhammad Iqbal, seorang ahli filsafat mungkin menulis syair untuk orang orang tersebut “Untuk apa shalatmu jika kamu tidak bersungguh sunggguh didalamnya?”
Kita tidak bisa begitu saja membuat streotif seluruh penduduk berdasarkan penilaian terhadap pandangan beberapa orang yang tidak toleran. Sebagaimana tidak ada gunanya silent majority kaum Yahudi, Kristen, Muslim atau Hindu; dan orang Amerika, India, atau Cina, mayoritas Muslim Pakistan yang tidak memiliki nyali untuk berbicara. Kita harus mendorong orang orang baik untuk mulai bicara dan membawa perubahan positip dimana tidak ada lagi orang Pakistan yang hidup dalam ketakutan, ketidaknyamanan, atau ketakutan terhadap sesama orang Pakistan.

Mereka tidak memiliki kemerdekaan untuk menandatangani Petisi Asia Bibi; tidak memiliki keberanian untuk melangkah maju ke upacara pemakaman Gubernur Taseer yang ingin mengakhiri hukum terhadap penghujatan yang salah, dan mereka tidak memiliki keberanian untuk bicara tentang isu-isu terhangat dan tahan dengan pemerintahan Zardari

Apa yang terjadi pada komunitas ini; yang seharusnya menghargai keadilan diatas segalanya? mereka mendengarkan kisah-kisah para nabi dan khalifah-khalifahnya, bagaimana mereka berdiri untuk hak-hak kaum Yahudi, Kristen dan yang lainnya meskipun bertentangan dengan teman-teman dan sanak saudara. Seorang muslim tidak bisa berprasangkan dan menghakimi. Berapa banyak dari kita yang benar-benar memenuhi syarat menjadi seorang Muslim?

Minggu ini menjadi “saksi” bagi ulang tahun ke 85 Dr. Salam. Semoga Allah memberkahi beliau atas penelitian beliau mengenai “teori fisika partikel elementer” yang bermanfaat bagi kemanusiaan, semoga Allah memberikan keberanian pada orang orang Pakistan untuk memperjuangkan keadilan bagi setiap orang Pakistan dalam mengikuti Nabi saw dan Khulafaur Rasyidiin, dan memperlakukan setiap warga Pakistan pada kedudukan yang sama tanpa memandang agama, keyakinan atau golongan.

Terj: Eva Hanifah
Editor: Jusman
Sumber : www.huffingtonpost.com

Untuk mengenal lebih lanjut sosok abdussalam silahkan "baca disini"

Dakwah Ahmadiyah: Menyebarkan Pesan Perdamaian Islam di Metropolis Frankfurt

dakwah islam damai Dakwah Ahmadiyah: Menyebarkan Pesan Perdamaian Islam di Metropolis Frankfurt 
themuslimtimes.org – Frankfurt adalah kota metropolis keuangan Jerman. Bandara internasional dan stasiun kereta api yang besar menarik ribuan orang setiap hari.

Seperti beberapa bulan lalu, Jamaah Muslim Ahmadiyah Jerman memulai kampanye untuk menyebarkan ajaran damai Islam melalui banner di Munich dan beberapa kota lainnya. Sekarang mereka melanjutkan kampanye ini ke mega-city Frankfurt.

Seperti diketahui, Islam hampir setiap hari menghiasi surat kabar-surat kabar Jerman dan media televisi, untuk satu alasan atau lainnya, seringnya dalam hal pandangan kritisi. Respon terbaik untuk masalah penting tersebut adalah dengan pesan perdamaian melalui inisiatif tersebut. Jamaah Ahmadiyah Jerman melakukan pekerjaan mereka dengan cara yang sangat baik.

Pesan-pesan pendek dan tajam, misalnya, “Seharusnya tidak ada paksaan dalam agama, yang terbaik dari kami adalah yang terbaik memperlakukan keluarganya dan orang yang mendidik anaknya dengan cara terbaik, akan mendapat surga baginya.” diatas pesan-pesan dicetak slogan Ahmadiyah “Love for all, hatred for none.”

Media juga membahas hal ini secara positif. Banyak penumpang juga menghargai upaya ini. Untuk pesan damainya, yang membawa kemanusiaan beberapa langkah lebih dekat.
Menyebarkan gambaran sebenarnya Islam hanya dapat didengar dan diakui oleh cara-cara seperti itu. Ini adalah respon yang jelas terhadap terorisme dan setiap jenis kekerasan yang disebarkan atas nama agama.

Terj: Jusman
Sumber : www.themuslimtimes.org

Masjid baru AHMADIYAH di London

Masjid tahir1 Masjid baru AHMADIYAH di London

Masjid Tahir adalah sebuah Masjid baru yang didirikan oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah di Catford, London. Sebelumnya di Bulan September 2011 Ahmadiyah juga telah mambangun sebuah Masjid di Oslo yang merupakan Masjid terbesar di wilayah Skandinavia.

Dalam Press Release yang dimuat di alislam.org peresmian Masjid Tahir dipimpin oleh Khalifah Ahmadiyah, Mirza Masroor Ahmad pada tanggal 11 Februari 2012.
Pembukaan Masjid ini juga dihadiri oleh sejumlah pejabat dan tamu, termasuk Heidi Alexander, anggota parlemen untuk Lewisham Timur dan Sir Steve Bullock, Walikota Lewisham.

Setelah tiba lokasi, Mirza Masroor Ahmad meresmikan Masjid dengan memasang plakat peringatan dan kemudian memimpin doa tanda syukur kepada Allah SWT. Setelah itu pohon ditanam oleh beliau untuk lebih menandai peristiwa.

Masjid Tahir 2 Masjid baru AHMADIYAH di London

Setelah memimpin doa di Masjid, Huzur mengadakan audiensi dengan Muslim Ahmadi lokal, dimana beliau mendesak mereka untuk selalu ingat tujuan sebenarnya dari sebuah Masjid. Beliau mengingatkan mereka bahwa Masjid harus menjadi tempat kesucian lahir dan batin. Dan beliau mengatakan bahwa Ahmadi Muslim harus selalu menjaga suasana saling mencintai dan kasih sayang, yang mana hal itu menggambarkan ajaran Islam damai kepada dunia.

Setelah pertemuan pribadi antara Huzur dan pejabat lokal, resepsi resmi pembukaan Masjid dimulai pada pukul 18:40. Dalam sambutannya, Ketua Ahmadiyah lokal, Bapak Naseem Butt berbicara tentang bagaimana Masjid tersebut telah didanai sepenuhnya oleh Jemaah Muslim Ahmadiyah sendiri. Beliau mengatakan sejumlah wanita bahkan menyumbangkan perhiasan mereka sementara anak-anak kecil menawarkan uang saku mereka untuk membantu pendaanaan Masjid.

Tahir 3 Masjid baru AHMADIYAH di London

Heidi Alexander MP, mengucapkan selamat kepada Jamaah Ahmadiyah pada Pembukaan Masjid tersebut. Beliau berharap Jamaah Ahmadiyah baik dan mengatakan bahwa beliau kedepan akan bekerjasama dengan Ahmadiyah.
Sir Steve Bullock, Walikota Lewisham, mengatakan bahwa ia mengenal bangunan sebelumnya yang telah diubah menjadi Masjid, yang dipakai sebagai kantor untuk dewan setempat. Beliau mengucapkan selamat kepada Ahmadiyah dan mengatakan bahwa memiliki tempat ibadah untuk komunitas manapun adalah hal yang sangat penting dan merupakan sarana untuk pertumbuhannya.
Heidi Alexander MP dan Sir Steve Bullock juga mengucapkan terimakasih kepada Jamaah Muslim Ahmadiyah telah mengadakan donasi amal untuk masyakat lokal sebagai sarana lebih lanjut untuk menandai pembukaan Masjid.
Tahir 4 290x198 Masjid baru AHMADIYAH di London

Acara ini diakhiri dengan pidato oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad dimana beliau mengatakan bahwa semua Masjid Ahmadiyah dibangun untuk menyembah Allah dan untuk melayani kemanusiaan.
Berbicara tentang pentingnya yang terakhir, beliau mengatakan:
“Sangat penting bahwa seorang muslim tidak boleh merampas hak orang lain, dan sebaliknya ia harus menyingkirkan semua perbedaan agama, suku atau etnis. Dan berusaha untuk menjadi sarana pendukung dan cinta untuk untuk semua orang lain. Jika seseorang datang kepada seorang muslim untuk meminta bantuan, maka itu adalah tugas dari muslim untuk mencoba memenuhi kebutuhan itu.”

Tahir 5 Masjid baru AHMADIYAH di London

Beliau juga berbicara tentang ketakutan beberapa orang atas penyelenggaraan Masjid dan Islam itu sendiri. Beliau mengatakan ketakutan seperti dibenarkan, karena tindakan ekstrimis yang menghancurkan perdamaian dan keamanan masyarakat pada umumnya. Namun beliau menasehati bahwa tindakan seperti itu dilakukan oleh sebuah minoritas kecil dan sama sekali tidak sesuai dengan ajaran sebenarnya Islam. Beliau menambahkan:

“Perdamaian di masyarakat merupakan proses dua arah dan hanya dapat dibentuk jika semua pihak bekerja sama menuju rekonsiliasi bersama.”

Tahir 6 Masjid baru AHMADIYAH di London

Beliau menyimpulkan dengan menyerukan perdamaian akan didirikan di dunia. Beliau mengatakan:
“Hari ini kami, Jamaah Muslim Ahmadiyah mencoba untuk membawa perdamaian di dunia. Kami memainkan peran dan berusaha untuk memenuhi tanggung jawab kami dalam hal ini. Dan saya akan meminta anda semua untuk bergabung dengan kami dalam tugas ini.
Kita harus mengesampingkan keinginan pribadi kita sendiri, malah sebaliknya khawatir akan keadaan masa depan dan kesejahteraan generasi kita berikutnya. Kita harus menerapkan Selflessness (tidak mementingkan diri sendiri) daripada selfishness (egoisme). Ketika kita semua bergabung bersama-sama dan datang untuk menghormati perasaan masing-masing dan sentimen maka hanya suasana kasih sayang lah yang akan berkembang. Hal ini kemudian yang kita benar-benar akan lihat, sebuah masyarakat yang indah yang semua orang inginkan.
sumber : agama-islam.org

Kembali Masjid Baru Ahmadiyah diresmikan oleh Pemimpin Dunia Islam di London

Setelah di awal Pebruari 2012 Ahmadiyah meresmikan Masjid Tahir di Catford, London, kini Ahmadiyah kembali membangun Sebuah Masjid baru yang diresmikan oleh Hadrat Mirza Masroor Ahmad, Masjid Baitul Wahid di Feltham, London.
Berikut Press Release yang kami terjemahkan dari Alislam.org

Masjid Baru Ahmadiyah diresmikan oleh Pemimpin Dunia Islam di London

Mirza Masroor Ahmad mengatakan bahwa Alquran merupakan kitab Perdamaian

Baitul Wahid 1 Kembali Masjid Baru Ahmadiyah diresmikan oleh Pemimpin Dunia Islam di London

Jamaah Muslim Ahmadiyah dengan bangga mengumumkan bahwa pada tanggal 24 Februari 2012, pemimpin dunianya, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad meresmikan Masjid Baitul Wahid di Feltham, London. Masjid ini secara resmi dibuka oleh Huzur saat beliau memimpin shalat Jumat di Masjid dengan khutbah yang disiarkan langsung ke seluruh dunia melalui MTA Internasional (Muslim Television Ahmadiyya)
Kemudian diikuti dengan resepsi resmi pada malam harinya yang dihadiri oleh sejumlah pejabat dan tamu termasuk anggota Parlemen Maria Macledo, Seema Malhotra, Anggota Dewan Amrit Mann dan Lord Eric Averbury.

Baitul Wahid 2 Kembali Masjid Baru Ahmadiyah diresmikan oleh Pemimpin Dunia Islam di London

Maria Macleod, Anggota Parlemen untuk Brentford dan Isleworth mengucapkan selamat kepada Jamaah Ahmadiyah atas peresmian Masjid Baitul Wahid. Beliau memberi dukungannya atas inisiatif perdamaian yang dijalankan oleh Ahmadiyah dan memuji peran Ahmadiyah dalam menciptakan masyarakat yang damai. Beliau juga berbicara tentang keprihatinannya pada penganiayaan yang terus terjadi terhadap para Ahmadi di Pakistan.
Seema Malhotra, Anggota Parlemen untuk Feltham dan Heston, mengatakan bahwa komunitas Ahmadiyah terus berjuang dalam mempertemukan orang-orang dari dari berbagai agama dan keyakinan. Beliau mengatakan nilai-nilai dari Ahmadiyah membuatnya menjadi salah satu contoh bagi orang lain untuk mengikutinya. dan beliau mengatakan bahwa beliau yakin Masjid baru tersebut akan mendidik dan mempererat hubungan masyarkat setempat.

Baitul Wahid 3 Kembali Masjid Baru Ahmadiyah diresmikan oleh Pemimpin Dunia Islam di London

Walikota London, Konselor Amrit Mann, menyebut Jamaah  Ahmadiyah di Hounslow sebagai contoh masyarakat. Beliau memuji motto Ahmadiyah ‘Love for all hatred for none (Cinta untuk semua, kebencian tidak untuk siapapun) dan komitmennya terhadap upaya kemanusiaan. Bapak Jagdish Sharma, MBE, Ketua Dewan Hounslow Borough, mengatakan Ahmadi Muslim memiliki keistimewaan dalam ‘taat hukum dan toleran’.
Acara diakhiri dengan sambutan dari Khalifah Kelima Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, dimana beliau berbicara tentang berbagai masalah berdasarkan ajaran Islam hakiki.

Ketika orang-orang terbunuh di Afganistan karena dugaan pembakaran Kitab suci Alquran, beliau menjelaskan bahwa Islam tidak tidak mengizinkan kekerasan dengan sewenang-wenang atau balas dendam dalam bentuk apapun. Beliau mengatakan:
Alquran menyerukan pembentukan perdamaian. Alquran mengajak umat Islam untuk bertindak penuh kasih sayang terhadap semua umat manusia.

Baitul Wahid 4 Kembali Masjid Baru Ahmadiyah diresmikan oleh Pemimpin Dunia Islam di London 

Huzur juga menyebut potensi kekhawatiran masyarakat setempat dari pembangunan Masjid. Menanggapi semua kekhawatiran tersebut, beliau mengatakan:
Masjid ini dibangun hanya untuk menyembah Allah dan sebagai sarana untuk mengembangkan cinta, kasih sayang dan perdamaian. Kami tidak memiliki tujuan lain, dan tidak akan pernah.Setiap Muslim sejati tidak pernah menginginkan ketidakadilan atau penderitaan bagi orang lain karena itu akan bertentangan dengan apa yang Alquran dan Nabi Muhammad saw ajarkan.”
Huzur berbicara tentang upaya berkelanjutan Jamaah Muslim Ahmadiyah untuk mempromosikan perdamaian dan untuk membantu melayani kemanusiaan. Beliau berkata:
Kapanpun dan dimanapun kita dipanggil untuk membantu upaya-upaya baik atau dalam pelayanan kepada umat manusia, kita harus mengindahkan panggilan tersebut dan berlari untuk ikut serta dalam tindakan-tindakan yang baik. Kita melakukannya bukan karena ada kepentingan pribadi, tetapi semata-mata karena keinginan untuk mencari ridho Allah dan kedekatanNya.”

Baitul Wahid 5 Kembali Masjid Baru Ahmadiyah diresmikan oleh Pemimpin Dunia Islam di London 

Khalifah juga berbicara tentang kekagumannya terhadap nilai-nilai kedilan dan persamaan di Inggris. Berbicara tentang bagaimana mengurus perizinan masjid telah diberikan setelah meminta banding. Huzur mengatakan:
Pada akhirnya kami diberi izin untuk membangun masjid ini. Dan ini adalah karena – seperti telah saya katakan berkali-kali – bahwa di sini, di Inggris sistem pemerintahannya adil dan salah satunya memberikan hak kepada warga negaranya. Kami, Ahmadi Muslim selalu berdoa agar Allah taala memungkinkan pemerintah adil bisa didirikan di seluruh dunia.”
Baitul Wahid 6 Kembali Masjid Baru Ahmadiyah diresmikan oleh Pemimpin Dunia Islam di London 

Khalifah mengakhiri dengan berbicara tentang keprihatinannya terhadap keadaan dunia saat ini. Beliau mengatakan:
Dunia saat ini penuh dengan bahaya dan kekacauan. Kita duduk di sebuah titik yang sangat kritis dan karenanya ada kebutuhan mendesak bagi kita untuk mengingat Pencipta kita dan menjalankan semua hak-hak-Nya. Sebagaimana kita berdiri diambang bencana kita semua harus bergabung bersama-sama dalam upaya untuk mencegah bencana besar yang akan menimpa kita.
Setiap individu dalam sebuah masyarakat, terlepas dari latar belakangnya, memiliki peran untuk dijalankannya. Kita perlu memperingatkan para pemimpin dan pemerintah kita atas bahaya saat ini. Sebaliknya jika kita gagal dalam tugas ini dan terjadi Perang Dunia Ketiga, maka kehancuran mengerikan yang akan menimpa kita akan menjadi jelas dan terbentang di hadapan kita. Kita harus peduli terhadap generasi masa depan kita dan tidak dihabiskan hanya oleh kepentingan pribadi kita sendiri.
Baitul Wahid 7 Kembali Masjid Baru Ahmadiyah diresmikan oleh Pemimpin Dunia Islam di London 

Pada kesempatan itu juga, Huzur meluncurkan sebuah plakat peringatan dan menanam pohon untuk lebih menandai peresmian masjid. Huzur juga mengadakan pertemuan pribadi dengan sejumlah pejabat. (terj. KAJ)

22 Deer Park Road, London, SW19 3TL UK
Tel/Fax: 020 8544 7613 Mob: 077954 90682 Email: press@ahmadiyya.org.uk Press Secretary AMJ International
Short URL of this page to share: www.alislam.org/e/1605

Sumber: Alislam.org

Rabu, 29 Februari 2012

ADAKAH YANG SALAH DENGAN KEBERAGAMAN?

Sempat terlintas dalam benak kita, “mengapa harus ada keberagaman?”. Jawabann  ya sederhana saja. Tak mungkin sesuatu dikatakan tinggi jika tidak ada yang pendek. Tak mungkin ada yang dikatakan kuat jika tak ada yang lemah. Keberagaman atau perbedaan merupakan sesuatu yang lumrah dalam kehidupan masyarakat. Tak heran jika seseorang berbeda satu dengan lainnya. Entah itu berbeda sifat, sikap ataupun pemikiran. Tak perlu jauh - jauh melihat ke Negara lain, kita lihat saja Negara kita tercinta, Indonesia. Semboyan Negara Indonesia yang berbunyi, Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu jua) telah menyiratkan bahwa Indonesia memiliki keberagaman. Keberagaman tersebut berupa suku, agama, ras dan adat istiadat.

            Adanya keberagaman dalam kehidupan masyarakat menimbulkan warna – warni dalam kehidupan. Bayangkan saja jika semua yang kita lihat sama, semua yang kita pikirkan sama. Tak akan ada pertukaran pikiran, tak akan ada diskusi dan tak akan ada musyawarah untuk mencapai mufakat. Tak hanya itu, terkadang keberagaman menyeret kita pada situasi yang tak begitu baik. Katakanlah saja keberagaman membawa kita pada situasi sulit yang seharusnya tak pernah terjadi pada manusia sebagai makhluk yang berakal. Manusia diberikan akal dan pikiran yang mampu dijalankan dengan baik. Akal dan pikiran tersebut di produksi oleh otak dan diteruskan oleh saraf anggota badan. Keberadaan akal dan pikiran pun perlu ditunjang dengan perasaan dan naluri. Mengapa demikian? Karena kita sebagai manusia memiliki batasan – batasan yang disebut nilai dan norma.

            Akhir – akhir ini banyak peristiwa – peristiwa yang membuat hati kita miris melihatnya. Perlakuan yang melampaui batas kemanusiaan yang sepantasnya dikatakan kriminalitas marak terjadi atas dasar perbedaan paham dan keberagaman. Sebagai contoh kecil saja, anggota jemaat Ahmadiyah Indonesia yang sangat rutin menerima serangan – serangan baik fisik maupun mental dari sesamanya. Hal ini terjadi atas motif perbedaan paham mengenai Islam yang sampai sekarang diperselisihkan dan tak kunjung reda. Lalu, adakah yang salah dengan perbedaan? Bukankah perbedaan itu adalah rahmat? Pantaskah HAM diterobos dengan alasan perbedaan?

            Di media massa seperti surat kabar, televisi dan internet, telah beredar tayangan – tayangan kekerasan dan perbuatan anarkisme dari masyarakat anti – ahmadiyah yang bersikeras ingin membubarkan ahmadiyah. Anggota ahmadiyah diusir dari rumahnya sendiri, tempat tinggalnya sendiri yang secara hukum memang miliknya. Di kejar – kejar oleh amukan massa yang menyuarakan asma Allah di tengah – tengah kekerasannya. Lalu, dimanakah kedamaian yang selalu dijunjung tinggi oleh ajaran islam? Dimanakah letak ukhuwah islamiyah yang menjadi teladan dari Rasulullah, SAW? Dan dimanakah Hak Azasi Manusia yang seharusnya diperhatikan?

            Baru beberapa bulan yang lalu, terdengar kembali berita yang lagi – lagi membuat hati kita miris mendengarnya. Minggu, pukul 09.00 malam salah satu rumah warga ahmadiyah di kecamatan Sumbawa diserang massa. Satu keluarga tersebut di evakuasi dan menetap sementara di Polres Sumbawa besar. Rumah mereka dirusak dan dihancurkan. Terdengar pekikan asma Allah di sela – sela lemparan batu. Perbuatan yang sesungguhnya tidak mencerminkan ajaran islam yang cinta damai. Anggota ahmadiyah terseret lagi dalam satu ironi. Ironi yang tak kunjung berakhir. Patutkah mereka diperlakukan secara anarkis karena alasan perbedaan? Salahkah perbedaan? Kembali lagi ke semboyan Negara Indonesia yaitu , bhineka tunggal ika yang perlu kita renungkan bersama – sama. Dan penegakan HAM yang perlu kita perhatikan bersama. Warga Ahmadiyah Indonesia adalah warga Negara Indonesia yang berhak hidup dan menjalani kehidupan dengan baik. Perlu diberikan kewenangan untuk hidup normal dan berbaur dengan sesamanya. Bukannya malah memberikan tekanan – tekanan yang mengisyaratkan kebencian. Kini kita renungkan kembali, pernahkah kekerasan – kekerasan yang dilancarkan kepada warga Ahmadiyah berbalas kekerasan? Tidak pernah. Karena warga Ahmadiyah sangat menghargai perbedaan dan memegang teguh prinsip ‘LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE’ (cinta untuk semua, kebencian tidak untuk seorangpun). Perbedaan yang terjadi tak perlu disalahkan karena perbedaan adalah rahmat. Rahmat yang diberikan Allah SWT kepada seluruh umat manusia agar kita sebagai manusia bisa menghargainya.

Oleh : Mumtazah Akhtar

Minggu, 12 Februari 2012

PIDATO MLN USMAN ANAS PADA JALSAH SALANAH BALI-NUSRA TANGGAL 10-12 FEBRUARI 2012 (bag II)


RASULULLOHSAW SEBAGAI KHOOTAMANNABIYYIIN

Dari asbabunnuzul/ yang melatarbelakangi turunnya ayat surah alAhzab ayat 40 di atas, teranglah sudah bahwa turunnya ayat Khotamannabiyyin/surah alAhzab ayat 40 adalah sebagai penolakan atau pembelaan dari pihak Alloh swt sendiri terhadap tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh kaum kafir Mekah atau musuh-musuh beliau dan juga musuh-musuh Islam yang bermaksud melecehkan pribadi suci Rsululloh saw karena pernikahan beliau dengan mantan istri Hz. Zaid bin Haritsah yang merupakan anak angkat beliau sendiri. Mereka juga menuduh Rasululloh saw sebagai pribadi yang moralnya rendah (na’udzubillahi min dzalik) karena beliau telah melakukan sesuatu yang mereka sendiri tabu untuk melakukannya karena adat bangsa Arab waktu itu tidak membolehkannya. Demikian pula karena mereka menyaksikan bahwa putra laki-laki rasululloh meninggal semuanya pada masa kanak-kanak, maka dengan sendirinya setelah kewafatan Rasululloh saw Islam  akan hancur dan punah. Untuk itu mereka sangat bergembira dan menertawakan nasib yang akan dialami oleh Rasululloh dan agama Islam yang beliau bawa. Namun Alloh swt tidak membiarkan mereka bergembira dan menertawakan terlalu lama yang pada akhirnya turunlah ayat surah alAhzab ayat 40 di atas sebagai jawaban atas penghinaan dan pelecehan mereka terhadap Rasululloh sekaligus Alloh menghabarkan kepada para sahabat dan orang-orang beriman akan kemuliaan dan martabat Rasululloh saw yang begitu tinggi di sisi Alloh swt.
Pada hakikatnya Rasululloh saw menikahi Siti Zainab ra adalah semata-mata karena perintah dari Alloh swt untuk memenuhi setidak-tidaknya 2 misi utama yang dikehendaki Alloh swt. Untuk terjadinya perubahan di kalangan bangsa Arab saat itu yang sudah berurat berakar dan membudaya :
1.  Merombak sampai ke akar-akar tradisi dan adat-istiadat yang sudah membudaya selama beratus ratus tahun bahwa anak angkat sama dengan anak kandung yang memiliki hak waris seperti anak kandung sendiri.
2.  Supaya orang-orang yang sejak semula memiliki rasa permusuhan dan penentangan kepada Islam dan Rasululloh saw semakin nampak menjadi-jadi dalam permusuhannya sehingga ketetapan Alloh bagi para penentangnya segera diberlakukan.
Seperti apakah pembelaan Alloh swt kepada RasulNya yang termulia dalam bentuk penolakan terhadap tuduhan-tuduhan rendah musuh-musuh beliau?
Marilah kita sama-sama memperhatikan sekali lagi ayat surah alAhzab ayat 40 di atas sbb:
“MAA KAANA MUHAMMADUN ABAA AHADIM MIRRIJAALIKUM WALAAKIR ROSUULALLOOHI WA KHOOTAMANNABIYYIIN”,
Muhammad itu bukanlah bapak salah sorang diantara kamu melainkan Rasul Alloh dan Khotamannabiyyin.
Dari asbabunnuzul di atas kita mengetahui bahwa musuh-musuh Rasululloh saw berusaha merendahkan dan menghinakan beliau dengan tuduhan tidak berketurunan dan melakukan pernikahan yang terlarang dalam tradisi bangsa Arab. Menurut mereka ya’ni para musuh dan penentang beliau, ini merupakan kehinaan dan kerendahan dan tanda kehancuran beliau dan kehancuran misi agama Islam yang beliau perjuangkan sebagai utusan Alloh. Namun Alloh mengkanter dan membuktikan bahwa apa yang mereka tuduhkan itu adalah hayalan kosong mereka, karena Alloh telah memilih beliau sebagai pesuruhNya yang paling dikasihinya diantara semua RasulNya. Beliau bukan saja tidak relevan dengan tuduhan kalian bahwa beliau tidak menjadi bapak anak laki-laki lahiriah tapi beliau adalah bapak rohani seluruh umat manusia bahkan lebih dari itu beliau adalah bapak rohani seluruh nabi dan rasul baik nabi dan rasul yang diutus dimasa lampau maupun nabi dan rasul yang akan diutus dimasa datang.

Ma’na-ma’na Khotam menurut LUGHOT/BAHASA:
Apabila sebuah kalimat bahasa arab diidhofatkan dengan bentuk jamak, maka hal ini selalu menunjukan kepada makna pujian dan keagungan. Sekarang marilah kita perhatikan ungkapan kalimat-kalimat berikut yang di awali dengan kata Khatam :
1.  Plato, dijuluki Khatamul Hukama (Miratusuruh).
2.  Syamsuddin, dijuluki Khatamul Huffadz (At-Tajridus Sharih)
3.  Rasyid Ridho, dijuluki Khatamul Mufassirin (Al-Jamil Al-Islam)
4.  Abu Tammam, dijuluki Khatamus Syu’ara (Wafiatul `Ayan)
5.  Muhammad Abduh dijuluki Khatamul Aimmmah (Tafsir Fatiha)
6.  Imam Suyuti, dijuluki Khatamul Muhaqqiqin (Tafsir Itqan)
7.  Manusia disebut Khatamul Mahluqat Jasmanian (Tafsir Kabir)
8.  Nabi Isa as, dijuluki Khatamus Syifa Al-Aimmah (Baqiyatul Mutaqaddimin)
9.  Syaikh Waliullah Dehlawi, dijuluki Khatamul Muhadditsin (Ujala Nafi)
10.  Abu Hasan Kabus Bin Abi Tahir, dijuluki Khatamul Muluk (Wafiatul `Ayan)

Apabila kita memaknai kata Khatam dengan terakhir atau penutup pada ungkapan kalimat-kalimat diatas tidak dengan makna utama, mulia, terbaik, sempurna, ataupun yang sepadan dengan itu, maka plato yang dijuluki Khatamul Hukama, Syamsuddin Khatamul Huffadz ataupun Rasyid Ridho yang di juluki Khatamul Mufassirin dimaknai dengan Hakim yang terakhir, penghafal terakhir, dan Mufassir terakhir maka kita melihat bahwa sesudah beliau-beliau pun muncul juga para Hakim, para penghapal, dan para Mufassir yang jumlahnya sangat banyak. Oleh karena itu Pemaknaan tersebut tidak tepat, yang tepat adalah bahwa beliau-beliau adalah: hakim utama, penghapal terbaik, dan Mufassir ternama. Demikian juga untuk Abu Tammam, Imam Suyuti, Muhammad Abduh, dan seterusnya.
Empat  Ma’na Khataman Nabiyyin
Menurut arti baik yang tersurat maupun yang tersirat dalam kata Khatam, maka ungkapan kata Khataman Nabiyyin memiliki ma’na-ma’na sebagai berikut:
1. Materai, segel, Cap ataupun stempel bagi para nabi, maksudnya ialah tidak ada nabi yang dianggap benar kalau kenabiannya tidak bermatraikan Rasullulah SAW karena beliau Mushaddiq (yang membenarkan pendakwaan kenabian mereka). Kenabian semua nabi yang sudah lampau harus dibenarkan dan di sahkan oleh beliau kemudaian tidak akan ada seorang pun mencapai derajat kenabian sesudah beliau kecuali dengan cara menjadi pengikut setia beliau.
2. Cincin : maksudnya adalah sebagaimana cincin di pakai sebagai perhiasan, maka Rasullulah SAW merupakan perhiasan bagi sekalian nabi.
3. Afdol, terbaik, termulia dan paling sempurna; maksudnya adalah bahwa beliau adalah nabi terbaik, termulia, dan paling sempurna dari sekalian nabi ditilik dari segi ajaran yang di bawanya maupun luasnya cakupan missi yang diemban beliau yakni untuk seluruh bangsa dan kaum didunia ini.
4. Terakhir atau pemungkas; maksudnya adalah bahwa beliau adalah nabi terakhir atau nabi pamungkas diantara para nabi pembawa syariat. Penafsiran ini sudah diterima oleh para ulama tekemuka seperti: Ibnu Arabi, Syah Waliullah, Imam Ali Qari, Mujaddid AlfTsani, dan lain lain. Rasullulah SAW sebagai akhirul ambiya (Nabi penutup, nabi tiada tandingan, nabi terakhir atau nabi pamungkas) hanya dalam arti kata bahwa semua nilai dan sifat kenabian menjelma dengan sesempurna-sempurnanya dan selengkap-lengkapnya dalam diri beliau. (untuk memahami lebih lanjut ma’na-ma’na tersebut diatas, pembaca bisa menelaah kitab-kitab dari Zurqani, Syarah Muwahib, Al-Laduniyyah, Futuhat, Tafhimat, Maktubat, dan Yawaqit wal Jawahir)...(Mln Qomarudin Sy dan Dendi Ahmad Daud).
HADITS-HADITS YANG MENDUKUNG MA’NA KHOTAMANNABIYYIN BUKANLAH SEBAGAI PENUTUP
1.  Rasululloh saw bersabda:
ANAA KHOOTAMUL ANBIYAA WA ANTA YA ‘ALI KHOOTAMUL AULIYA.
Artinya: Aku adalah khotam para nabi dan engkau hai Ali  adalah khotam para Wali.
Setelah Saidina Ali ternyata banyak Wali-wali Alloh yang muncul termasuk Wali Songo di Tanah Jawa.
2.  ITHMA’ANNI YAA “AMMAA ANAA KHOOTAMUL ANBIYA WA ANTA KHOOTAMUL MUHAAJIRIINA FIL HIJRATI.
Artinya: Berbahagialah wahai paman karena aku adalah khootamannabiyyin dan engkau adalah khotam untuk orang-orang yang berhijrah.
Dalam sejarah diketahui bahwa paman Rasululloh saw yakni Ibnu Abbas adalah orang yang paling pertama berhijrah dari Mekah ke Madinah di antara para Muhajirin yang berhijrah ke Yatsrib/Madinah.
3.  Siti Aisyah ra menyatakan;
QUULUU KHOOTAMANNABIYYIINA WALAA TAQUULUU LAA NABIYYA BA’DAHU.
Artinya; Katakanlah bahwa Rasululloh itu sebagai khotamannbiyyin tapi jangan katakan beliau itu tidak ada nabi sesudahnya.
Siti Aisyah ingin memberikan pengertian kepada semua kaum muslimin bahwa antara khotamannabiyyin dan hadits LAA NABIYYA BA’DI jangan dicampur adukkan karena keduanya memiliki ma’na yang berbeda, sekaligus ada semacam kekhawatiran dari Siti Aisyah ra bahwa kaum muslimin akan menggunakan kedua istilah itu untuk menutup pintu kenabiyan macam a apapun dikemudian hari. Dan ternyata kekhawatiran Siti Aisyah ra menjadi kenyataan.
Walhasil Khotam dengan makna PENUTUP bukan satu-stunya makna  yang melekat pada kata khotamannabiyyin.
Demikianlah uraian tentang Rasululloh sebagai Khotamannabiyyin yang dapat saya sampaikan pada kesempaatan Jalsh Wilayah Bali-Nusra yang penuh berkat ini, lebih dan kurangnya saya mohon maaf yang sebesar besarnya. Wabillahi Taufik wal Hidyah.. Assalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh

PIDATO MLN USMAN ANAS PADA JALSAH SALANAH BALI-NUSRA TANGGAL 10-12 FEBRUARI 2012 (bag I)


RASULULLOH SAW SEBAGAI KHOOTAMANNABIYYIIN

 Bapak-bapak dan ibu-ibu, serta semua peserta jalsah Wilayah Bali-Nusra yang berbahagia.
Assalamu alaikum wr.wb.
Alhamdulillah wa syukrillah, dengan karunia dan rahmat dari Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, pada hari ini kita semua diberi taufik olehNya untuk dapat menghadiri JALSAH WILAYAH BALI-NUSRA yang ke sekian kalinya di aula hotel yang ramah ini. Semoga setiap derap langkah kita menuju tempat ini diberkati olehNya dan mendapat ganjaran yang berlipat ganda. Amin.
Dalam pertemuan yang penuh berkat ini saya yang amat lemah ini mendapat karunia dan diserahi tugas oleh panitia Jalsah untuk menyampaikan ceramah yang temanya adalah RASULULLOH SAW SEBAGAI KHOOTAMANNABIYYIIN.

Bila kita memperhatikan sejarah kehidupan Rasululloh saw., maka selain makam khotamannabiyyin, ada makom-makom lain yang dianugerhkan kepada beliau oleh Alloh swt sebagai bukti keagungan, keluhuran, keistimewaan dan keunggulan beliau dari jajaran semua nabi-nabi dan rasul lainnya yang pernah diutus oleh Alloh swt di tengah-tengah suatu kaum dan bangsa di muka bumi di setiap zaman tertentu.
Sebagai misal, beliau mendapat gelar sebagai ALAMIN yakni wujud yang paling jujur yang pernah ada sejak langit dan bumi diciptakan. Begitu juga beliau digelari oleh Alloh swt dengan seorang wujud  yang memiliki akhlak YANG AGUNG sebagaimana firmanNya dalam alQuranul Karim:WAINNAKA LA’ALA KHULUQIN ‘AZHIIM.
Artinya: Wahai Muhammad engkau adalah wujud yang memiliki akhlak yang AGUNG.

Di dalam hadits Qudsi juga Alloh swt menyebut mengenai keutamaan Rasululloh saw. dari mahluk-mahluk lainnya, firmanNya:
LOULAAKA LAMAA KHOLAQTUL AFLAAQ
Artinya: Kalau bukan karena engkau hai Muhammad Aku tidak akan ciptakan langit dan bumi ini.

Kemudian pada peristiwa Mi’raj Rasululloh saw dari masjidil Haram ke Sidratul Muntaha disana Alloh memperlihatkan keunggulan dan ketinggian derajat rasululloh saw bila dibandingkan dengan semua nabi-nabi lainnya. Dalam peristiwa itu digambarkan bahwa semua nabi-nabi lainnya hanya mencapai langit yang ke tujuh dari ketinggian derajat rohani dan qurub Ilahi mereka,akan tetapi Rasululloh saw melampaui langit rohani yang ke tujuh dan sampai di Sidratul Muntaha dan mencapai qurub Ilahi sedemikian rupa dekatnya sampai menyatu dan melebur dengan wujud Alloh swt. Makom inilah yang difirmankan ALLOH dalam surah Annajem ayat: 8 - 9
TSUMMA DANAA FATADALLAA FAKAANA QOOBA QAUSAINI AU ADNAA.
Yang artinya: Kemudian ia (Rasululloh) mendekat (kehdapan Alloh), maka Alloh pun turun seraya mendekati rasululloh,maka terjadilah pertemuan dan penyatuan serta peleburan secara ruhani, saking dekatnya pertemuan itu maka ia seibarat dua anak panah yang dipersatukan. (Terjemah bebas)

Beberapa contoh di atas menggambarkan KEUTAMAAN DAN KETINGGIAN RASULULLOH SAW dari para nabi dan rosul semuanya.
Merujuk kepada contoh-contoh di atas saya ingin mengatakan kepada hadirin dan hdirat sekalian yang sedang menyimak uraian ini bahwa gelar KHOOTAMANNABIYYIIN yang disandang oleh rasululloh saw juga mengisyaratkan betapa tinggi dan luhurnya kedudukan rasululloh saw di pandangan Alloh swt

Sesuai dengan judul ceramah ini ya’ni RASULULLOH SEBAGAI KHOOTAMANNABIYYIIN, marilah kita simak pembahasan topik ini dengan mengacu kepada firman Alloh swt yang terdapat dalam surah Alahzab ayat 40:
MAA KAANA MUHAMMADUN ABAA AHADIM MIRRIJAALIKUM WALAAKIN RASUULALLOOHI WAKHOOTAMANNABIYYIIN.
Yang artinya, Muhammad itu bukanlah bapak dari salah seorang dari antara kamu melainkan rasul Alloh dan khootamannabiyyiin.
Mengenai makna khotamannabiyyin ada dua pengertian yang mengemuka dikalangan para ulama Islam dewasa ini.
1.  Yang memiliki pemahaman bahwa kata khotam selain artinya penutup ada arti arti lain sesuai dengan konteks kalimatnya dan kedudukannya dalam suatu kalimat tertentu. Pendapat ini adalah dipegang oleh sahabat-sahabat nabi dan para  alim ulama terdahulu seperti  Hz. Aisyah r.a. dan rasululloh saw sendiri.
2.  Yang memiliki pemahaman bahwa kata khotam hanya memiliki arti penutup saja. Pemahaman ini hanya dimiliki oleh ulama masa kini dan kaum muslimin yang mendapat didikan dari mereka
Sebagaimana semua sahabat nabi dan para ulama Islam meyakini bahwa rasululloh saw adalah Khootamannabiyyiin maka pendiri jemaat Ahmadiyh Hz. Misza Ghulam Ahmad as juga meyakini rasululloh saw sebagai khootamannabiyyiin. Marilah kita simak penyataan-pernyataan beliau, diantaranya:
1. Fitnah yang dilontarkan kepadaku dan jemaatku adalah bahwa kami tidak meyakini bahwa Rasululloh saw sebagai khootamannabiyyiin adalah suatu kedustaan yang besar terhadap kami. Dengan keteguhan iman, ma’rifat dan bashirat kami meyakini bahwa Rasululloh saw sebagai khotamannabiyyin...(Alhakam 7 Maret 1905).
2. Di dalam Al-Quran Alloh swt memberikan gelar kepada Rasululloh saw.KHOOTAMANNABIYYIN, kemudian di dalam sabdanya Rasululloh saw menyatakan LAA NABIY YA BA’DI. Alloh swt telah menetapkan bahwa sesudah beliau tidak akan datang nabi dari segi ma’na hakiki. (Kitab Bariyyah, Hal. 185).
3. Sesungguhnya nabi kita adalah Khotamal Anbiya yang tidak ada nabi sesudahnya kecuali yang disinari dengan sinarnya dan penzhahirannya merupakan penzhahiran dari bayangan Rasululloh saw. (Al-istifta, Hal. 22), 1907).
4. Alloh mencintai orang yang menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidupnya yang harus diamalkan dan meyakini bahwa nabiNya Muhammad saw adalah Khotamal Anbiya. (Casmah Ma’rifat , Hal.324, 1908).
5. Tuduhan yang dilontarkan kepadaku adalah bahwasanya aku seolah-olah menda’wakan kenabiyan sedemikian rupa seperti aku tidak ada sangkut pautnya dengan Islam, artinya aku menganggap diriku sebagai nabi yang terpisah sehingga tidak perlu lagi mengikuti al-Quran, membuat kalimah dan kiblat sendiri menyatakan syariat Islam mansukh dan tidak mentaati Rasululloh saw. Tuduhan ini sama sekali tidak benar, bahkan penda’waan seperti itu menurut hematku adalah sebuah pengingkaran. Aku menyatakan bahwa diriku adalah nabi berdasarkan karunia yang dianugrahkan Tuhan dimana aku dapat bercakap-cakap denganNya. Dia sangat sering berbicara dengan menurunkan kalamNya kepadaku, menjawab kata-kataku, dan banyak sekali memperlihatkan hal-hal gaib, membukakan tabir rahasia-rahasia masa yang akan datang dimana manusia seumumnya tidak mendapatkan kedekatan yang khususus ini denganNya, Kepada yang lain Dia tidak membukakan rahasia-rahasia itu. Oleh sebab inilah Dia menamaiku nabi dalam arti nabi ummati (nabi pengikut) supaya nubuatan jungjungan kita nabi Muhammad saw bahwa Isa yang akan datang itu dari umat beliau dan bergelar nabi menjadi sempurna. Kalau tidak, harapan hampa serta khayalan kosong akan menguasai manusia berkenaan dengan kedatangan nabi Isa as, bagaimana bisa beliau menjadi ummati. Apakah setelah turun dari langit ia  akan masuk Islam, lalu sejak itu nabi kita tidak lagi menjadi Khotamannabiyyin? (Surat kabar Lahore, 26 Mei 1908).
Berdasarkan pernyataan-pernyataan beliau tersebut, maka Jemaat Ahmadiyah dalam memahami dan menginterpretasikan topik di atas tetap berada dalam koridor Islam yakni berdasarkan AlQuran suci dan sabda-sabda Rasululloh saw dan para ulama mutaqoddimin dengan didukung oleh pemahaman bahasa Arab baik geramatikal maupun kesusastraannya ketika membahas masalah kedatangan Mahdi dan Masih yang dijanjikan dari kalangan umat beliau saw yang dianugerahi gelar kenabian yaitu nabi ummati Rasululloh saw.
Latar Belakang Turunnya Ayat:
Ayat ini diturunkan pada tahun kelima Hijrah dengan latar belakang menjawab tuduhan dan ejekan bahwa Rasululloh saw adalah abtar (seorang yang tidak memiliki  anak laki-laki dewasa/rijal). Dan kedua adalah pernikahan beliau dengan siti Zainab ra yang merupakan janda dari Zaid ibnu Harits ra, seorang pemuda yang dimerdekakan Rasululloh dan kemudian diambil sebagai putera angkat beliau.
Di Mekah pada waktu itu semua putra Rasululloh saw telah meninggal dunia semasa masih kanak-kanak. Musuh-musuh beliau mengejeknya sebagai abtar yang maksudnya tidak memiliki pelanjut yang akan melestarikan nama beliau. Mereka fikir cepat atau lambat Islam akan berakhir dengan satu kesudahan (bahrul muhit). Alloh swt menjawab secara tegas ejekan mereka seperti tertuang dalam surah al-Kautsar dimana Rasululloh saw bukanlah seorang yang tidak berketurunan melainkan merekalah yang tidak berketurunan..(Dikutif dari tulisan mln Qomarudin Sy dan Dendi Ahmad Daud Yang di Posting di milis Muballighin).

lamjut baca ke: PIDATO MLN USMAN ANAS PADA JALSAH SALANAH BALI-NUSRA TANGGAL 10-12 FEBRUARI 2012 (bag II)

Popular Posts

Tukeran Link

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons