Selasa, 13 Maret 2012

Gus Dur di Tengah Minoritas

Akh. Muzakki*

Seorang filosof pendidikan kenamaan dari New York, Sidney Hook (1943:154), pernah menyatakan, perkembangan sebuah bangsa kerap diikuti oleh munculnya dua figur. Yakni, figur yang telah turut menjadi saksi sejarah atas perkembangan itu sendiri (the eventful man in history) dan figur yang cenderung menjadi bagian dari apa yang disebut sebagai pencipta sejarah (the event-making man) bagi perkembangan itu. Yang kedua lebih aktif daripada yang pertama.

Besarnya investasi sejarah yang ditanamkan oleh kedua figur di atas terhadap perkembangan sebuah bangsa membuat namanya tak lekang oleh waktu, dan bahkan oleh perubahan politik kekuasaan sekalipun. Karena itu, tak heran jika muncul suatu pernyataan bijak: Bangsa yang besar adalah bangsa yang sangat menghargai jasa anak bangsanya sendiri.

Penghargaan itu bukan saja dalam kepentingan untuk sekadar mengenang jasa-jasa baik anak bangsa itu kepada masyarakat luas. Namun lebih dari itu, penghargaan itu merupakan bagian untuk menjadikan nilai positif yang diperbuatnya selama hidup sebagai teladan dan sekaligus inspirasi bagi lahirnya tindak positif lainnya dalam kehidupan masyarakat lebih luas untuk masa-masa setelahnya.

Penghargaan di atas akan semakin membesar saat publik melihat bahwa karakter dari figur the eventful man in historydan the event-making manmelekat kuat dalam diri seseorang. Indikatornya bisa kita lihat dari bentuk apresiasi publik yang tetap tinggi atas ketokohan dan kepeloporan yang pernah diinisiasinya saat masih hidup.

Bila membaca perkembangan terakhir pasca wafatnya Gus Dur pada 30 Desember 2009, tampaknya figur yang bernama asli Abdurahman Wahid al-Dakhil dan pernah menjadi Presiden RI ke-4 ini memenuhi kriteria sebagai the eventful man in historydan the event-making mansebagaimana dimaksud di atas.

Jika kita sempat terbangun pada sekitar pukul 03:30 dini hari atau satu jam sebelum shalat subuh, kita akan mulai dengan mudah mendengar lagu syi'ir Gus Dur (atau yang lebih dikenal dengan Syi'ir Tanpa Waton) dari pengeras suara masjid sekitar tempat tinggal kita. Semakin hari semakin sering pula syi'ir Gus Dur di atas bisa kita dengar dari berbagai masjid, baik di pedesaan dan perkotaan, sebagai pengingat bahwa waktu shalat akan segera datang.

Fenomena ini sangat menarik karena selama ini masjid-masjid yang ada biasanya memutar kaset pembacaan ayat-ayat al-Qur'an oleh para pelantun (qori') terkenal sebagai pengingat waktu sholat. Bahkan, beberapa dari masjid-masjid itu selama ini justeru memutar tarhim sebagai semacam "nyanyian" lagu dalam bahasa Arab terutama untuk menyambut datangnya waktu shalat subuh.

Tapi, kini syi'ir Gus Dur telah mampu menggeser tarhimdan atau lantunan qori'sebagai pengingat waktu shalat. Bahkan, secara perlahan-lahan, lagu syi'ir Gus Dur di atas diperdengarkan melalui pengeras suara masjid sebagai pengingat waktu untuk tiap shalat wajib lima kali sehari.

Fenomena di atas menunjukkan, Gus Dur telah menjadi pemantik kecenderungan hidup (trendsetter) tidak hanya bagi kehidupan sosial-politik, tetapi juga religius. Jangankan forum seminar sosial-politik, masjid sebagai simbol ritual keagamaan saja telah menjadi tempat untuk transmisi pesan dari pikiran-pikiran Gus Dur.

Fenomena baru dari perkembangan dunia keislaman di tanah air di atas semakin melengkapi catatan sejarah atas kiprah Gus Dur semasa hidupnya atas bangunan kebangsaan-kenegaraan Indonesia. Sebagai contoh kecil, Gus Dur selalu hadir bersama advokasinya untuk kelompok minoritas dan terpinggirkan. Kategori kelompok minoritas dan terpinggirkan ini tidak saja dari sisi politik, melainkan juga agama.

Tidak saja Islam sebagai agama mayoritas dalam relasinya dengan kelompok agama lainnya, melainkan juga kelompok-kelompok di internal Islam sendiri. Dengan begitu, kelompok-kelompok minoritas dan terpinggirkan tidak merasa menjadi warga negara kelas dua di negerinya sendiri.

Oleh karena itu, wajar saat terjadi ketegangan antar umat beragama, figur Gus Dur selalu ingin dihadirkan kembali. Figurisasi ini bisa melalui anak-anaknya ataupun keluarganya. Saat sejumlah 60 orang yang hendak melakukan misa natal di sebuah gereja di Bogor mendapatkan penentangan dari warga dan penguasa lokal, Inayah puteri Gus Dur dan Lily Wahid adik Gus Dur dihadirkan untuk melakukan advokasi terhadap kelompok Kristiani ini (Jawa Pos, 26/12/2011).

Penghadiran Inayah dan Lily Wahid ini tak lepas dari memori publik, terutama kaum minoritas, atas gagasan dan perjuangan Gus Dur saat masih hidup yang selalu menginginkan tiadanya diskriminasi atas dasar keyakinan, ras, etnis, dan kelompok sosial. Diskriminasi ini, dalam pandangan dan perjuangan Gus Dur, tidak saja mencederai nilai luhur Pancasila yng menjadi basis ideologi kebangsaan dan kenegaraan Indonesia akan tetapi juga ajaran Islam yang dipeluk secara mayoritas di negeri ini.

Banyak contoh yang bisa dihadirkan di sini untuk menjelaskan hadirnya Gus Dur di hati dan memori publik. Namun, terlepas dari kontroversi yang ditimbulkannya dalam keteguhannya memperjuangkan gagasan toleransi dan anti-diskriminasi yang menjadi nilai demokrasi dan agama, penghadiran kembali Gus Dur baik melalui advokasi sosial oleh figur-figur yang punya garis genealogis maupun melalui transmisi media keagamaan dan ruang publik mengembalikan memori publik seakan-akan Gus Dur masih hidup bersama dan atau di tengah-tengah mereka.

Kontribusi Gus Dur yang relatif besar kepada rakyat dan negara selama hidupnya menjadi latar belakang kecenderungan ini. Bahkan, seperti kata Nur Kholik Ridwan dalam bukunya Gus Dur dan Negara Pancasila(2010), perjuangannya membela mati-matian Pancasila dirasakan oleh masyarakat telah ikut menjamin rasa tenteram semua elemen masyarakat, termasuk kalangan minoritas agama dan kelompok sosial.

Keberhasilan Gus Dur menjadi figur the eventful man in historydan the event-making mantidak lepas dari kecakapan pemahaman dan perilaku yang bersangkutan dalam meramu kerangka yang apik antara Islam dan Indonesia. Pada awal 1980an, dengan gagasannya untuk melakukan pribumisasi Islam, Gus Dur telah menahbiskan keislaman dan keindonesian sebagai dua sisi mata uang uang. Keduanya berbeda tapi tidak pernah bisa dipisahkan.

Karena itu, memori publik pun selalu mencatat, Gus Dur sepanjang hayatnya mengandaikan dan meneladankan keislaman dan kebangsaan untuk hadir dalam waktu bersamaan. Caranya dengan menjadi Muslim serta warga Indonesia yang baik pada waktu bersamaan pula. Konkretnya, menjadi Muslim yang saleh harus pula menjadi, dan sekaligus ditandai oleh perilaku sebagai, warga negara Indonesia yang baik.  

* Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Dimuat diJawa Pos, 29 Desember 2011

Senin, 12 Maret 2012

Hukum Tidur di Dalam Masjid

Sebagai seorang muslim, masjid adalah tempat yang sering kita datangi. Belakangan ini, aturan ‘Dilarang Tidur di Dalam Masjid’ kerap kita jumpai di sekian masjid. Bagaimana bisa aturan ini dibuat? Aturan ini diputuskan sepihak oleh pengurus sebagian masjid bahkan oleh oknum pengurus. Aturan ini sulit diabaikan, lebih-lebih dilanggar karena aturan ini tercetak di atas kertas folio dengan huruf besar-besar dan tebal, yang dilekatkan hampir di tiap kaca-kaca bagian belakang masjid.Pengurus masjid memang bermaksud baik dengan kebijakan itu seperti menjaga kebersihan dan keheningan masjid dari liur atau dengkuran yang ditimbulkan orang yang tidur, atau menghindari pencuri (microfon atau ampli, mesin elektronik pengeras suara) yang berpura-pura tidur. Tetapi sumber hukum larangan tersebut patut ditelaah lebih lanjut.
Kalau ditinjau dari segi fiqh sebenarnya, “Tak masalah tidur di masjid bagi orang yang tidak junub meskipun dia telah berkeluarga. Sejarah mencatat bahwa Ash-habus Shuffah –mereka adalah para sahabat yang zuhud, fakir dan perantau– tidur (bahkan tinggal) di masjid pada zaman Rasulullah SAW. Tentu saja haram hukumnya jika tidur mereka mempersempit ruang gerak orang yang sembahyang. Ketika itu, kita wajib menegurnya. Disunahkan pula menegur orang yang tidur di saf pertama atau di depan orang yang tengah sembahyang,” [M. Nawawi bin Umar al-Bantani al-Jawi, Syarh Kasyifatus Saja ala Matni Safinatin Naja (Surabaya: Maktabah Ahmad bin Sa‘ad bin Nabhan wa Auladih, tanpa tahun) Hal. 29].
Pandangan fiqh di atas merupakan bagian dari sejarah kemanusiaan Rasulullah SAW. Jangankan untuk sekadar tidur lepas penat dalam hitungan jam (di siang hari bagi pekerja atau di malam hari bagi pelancong)? Bahkan untuk jangka yang tak terbatas sekalipun, agama memberikan toleransi untuk mereka seperti perlakuan Rasulullah terhadap Ash-habus Shuffah.
Jadi larangan tidur di masjid dimungkinkan hanya sejauh yang bersangkutan memiliki hadats besar atau mengganggu ruang gerak orang sembahyang yang menelan hanya 75cm x 1 meter. Ukuran ini bagi orang Indonesia sudah cukup leluasa untuk melakukan sembahyang. Larangan bisa saja dibelakukan dengan catatan pengurus masjid menyediakan ruang lain di masjid yang dapat digunakan untuk istirahat. Dengan demikian, kebijakan-kebijakan pengurus masjid, tidak menyurutkan langkah dakwah Islam.

Redaktur: Ulil Abshar
Penulis: Alhafidz Kurniawan

Sumber : http://www.nu.or.id

Kamis, 01 Maret 2012

Keadilan Untuk Seorang Abdus Salam: Muslim Pertama Peraih Nobel Fisika

abdus salam Keadilan Untuk Seorang Abdus Salam: Muslim Pertama Peraih Nobel Fisika
Prof Dr Abdus Salam


Dr. Abdus Salam – yang lahir di Pakistan, 29 Januari 1926 merupakan saintis Islam terbesar dan ilmuwan muslim pertama yang mendapatkan hadiah Nobel paling bergengsi di bidang fisika atom di tengah terpuruknya sains Islam dalam lima abad terakhir – demikian pujian yang disematkan Harian Islam Terbesar di Indonesia, Republika, untuk sosok Abdus Salam. Suatu hal yang sangat beralasan dan membuat kita bangga sebagai seorang muslim karena memiliki ilmuwan muslim seperti beliau. Tetapi apakah kebanggan itu akan tetap ada jika ternyata Abdus Salam itu adalah seorang pengikut Ahmadiyah? tulisan dibawah ini adalah ulasan dari Mike Ghouse tentang sosok Abdus Salam yang justru tidak mendapatkan penghormatan yang semestinya ia dapatkan hanya karena beliau seorang penganut Ahmadiyah.

Ulasan Hadiah Nobel dari kalangan Muslim: Dr. Abdus Salam

Oleh: Mike Ghouse
Adalah suatu hal yang memalukan dimana banyak orang Pakistan (saya banyak berinteraksi dengan mereka) yang ‘dicekoki’ pemikiran oleh pemerintah mereka bahwa orang ahmadiyah adalah bukan Islam.

Memalukan lagi, mereka bukan saja telah kehilangan kemerdekaan berpolitik, namun mereka juga telah kehilangan akal. Sebagai seorang muslim, saya kecewa bahwa Pemerintah Pakistan telah menghilangkan kata “muslim” kepada pemenang nobel alm. Dr. Abdus Salam, yang merupakan satu satunya warga Pakistan peraih nobel, bahkan menghapus kata “muslim” pada batu nisan beliau. Sungguh hal yang sangat memalukan. Beliau adalah kebanggan Negara Pakistan, namun tidak satupun menteri atau pejabat Negara yang menghadiri pemakaman beliau. Saya membayangkan seandainya beliau tinggal di Negara Amerika, pasti beliau akan mendapatkan segala penghormatan yang pantas beliau terima.

Padahal orang Muslim yang sama setiap hari melafazkan bahwa Allah adalah penguasa hari pembalasan (maaliki yaumiddin, pent), dan Allah sendiri yang menjadi hakim terhadap ibadah kita yang dilakukan 17 sampai 51 kali sehari. Untuk apa? Sir Dr. Allama Muhammad Iqbal, seorang ahli filsafat mungkin menulis syair untuk orang orang tersebut “Untuk apa shalatmu jika kamu tidak bersungguh sunggguh didalamnya?”
Kita tidak bisa begitu saja membuat streotif seluruh penduduk berdasarkan penilaian terhadap pandangan beberapa orang yang tidak toleran. Sebagaimana tidak ada gunanya silent majority kaum Yahudi, Kristen, Muslim atau Hindu; dan orang Amerika, India, atau Cina, mayoritas Muslim Pakistan yang tidak memiliki nyali untuk berbicara. Kita harus mendorong orang orang baik untuk mulai bicara dan membawa perubahan positip dimana tidak ada lagi orang Pakistan yang hidup dalam ketakutan, ketidaknyamanan, atau ketakutan terhadap sesama orang Pakistan.

Mereka tidak memiliki kemerdekaan untuk menandatangani Petisi Asia Bibi; tidak memiliki keberanian untuk melangkah maju ke upacara pemakaman Gubernur Taseer yang ingin mengakhiri hukum terhadap penghujatan yang salah, dan mereka tidak memiliki keberanian untuk bicara tentang isu-isu terhangat dan tahan dengan pemerintahan Zardari

Apa yang terjadi pada komunitas ini; yang seharusnya menghargai keadilan diatas segalanya? mereka mendengarkan kisah-kisah para nabi dan khalifah-khalifahnya, bagaimana mereka berdiri untuk hak-hak kaum Yahudi, Kristen dan yang lainnya meskipun bertentangan dengan teman-teman dan sanak saudara. Seorang muslim tidak bisa berprasangkan dan menghakimi. Berapa banyak dari kita yang benar-benar memenuhi syarat menjadi seorang Muslim?

Minggu ini menjadi “saksi” bagi ulang tahun ke 85 Dr. Salam. Semoga Allah memberkahi beliau atas penelitian beliau mengenai “teori fisika partikel elementer” yang bermanfaat bagi kemanusiaan, semoga Allah memberikan keberanian pada orang orang Pakistan untuk memperjuangkan keadilan bagi setiap orang Pakistan dalam mengikuti Nabi saw dan Khulafaur Rasyidiin, dan memperlakukan setiap warga Pakistan pada kedudukan yang sama tanpa memandang agama, keyakinan atau golongan.

Terj: Eva Hanifah
Editor: Jusman
Sumber : www.huffingtonpost.com

Untuk mengenal lebih lanjut sosok abdussalam silahkan "baca disini"

Dakwah Ahmadiyah: Menyebarkan Pesan Perdamaian Islam di Metropolis Frankfurt

dakwah islam damai Dakwah Ahmadiyah: Menyebarkan Pesan Perdamaian Islam di Metropolis Frankfurt 
themuslimtimes.org – Frankfurt adalah kota metropolis keuangan Jerman. Bandara internasional dan stasiun kereta api yang besar menarik ribuan orang setiap hari.

Seperti beberapa bulan lalu, Jamaah Muslim Ahmadiyah Jerman memulai kampanye untuk menyebarkan ajaran damai Islam melalui banner di Munich dan beberapa kota lainnya. Sekarang mereka melanjutkan kampanye ini ke mega-city Frankfurt.

Seperti diketahui, Islam hampir setiap hari menghiasi surat kabar-surat kabar Jerman dan media televisi, untuk satu alasan atau lainnya, seringnya dalam hal pandangan kritisi. Respon terbaik untuk masalah penting tersebut adalah dengan pesan perdamaian melalui inisiatif tersebut. Jamaah Ahmadiyah Jerman melakukan pekerjaan mereka dengan cara yang sangat baik.

Pesan-pesan pendek dan tajam, misalnya, “Seharusnya tidak ada paksaan dalam agama, yang terbaik dari kami adalah yang terbaik memperlakukan keluarganya dan orang yang mendidik anaknya dengan cara terbaik, akan mendapat surga baginya.” diatas pesan-pesan dicetak slogan Ahmadiyah “Love for all, hatred for none.”

Media juga membahas hal ini secara positif. Banyak penumpang juga menghargai upaya ini. Untuk pesan damainya, yang membawa kemanusiaan beberapa langkah lebih dekat.
Menyebarkan gambaran sebenarnya Islam hanya dapat didengar dan diakui oleh cara-cara seperti itu. Ini adalah respon yang jelas terhadap terorisme dan setiap jenis kekerasan yang disebarkan atas nama agama.

Terj: Jusman
Sumber : www.themuslimtimes.org

Masjid baru AHMADIYAH di London

Masjid tahir1 Masjid baru AHMADIYAH di London

Masjid Tahir adalah sebuah Masjid baru yang didirikan oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah di Catford, London. Sebelumnya di Bulan September 2011 Ahmadiyah juga telah mambangun sebuah Masjid di Oslo yang merupakan Masjid terbesar di wilayah Skandinavia.

Dalam Press Release yang dimuat di alislam.org peresmian Masjid Tahir dipimpin oleh Khalifah Ahmadiyah, Mirza Masroor Ahmad pada tanggal 11 Februari 2012.
Pembukaan Masjid ini juga dihadiri oleh sejumlah pejabat dan tamu, termasuk Heidi Alexander, anggota parlemen untuk Lewisham Timur dan Sir Steve Bullock, Walikota Lewisham.

Setelah tiba lokasi, Mirza Masroor Ahmad meresmikan Masjid dengan memasang plakat peringatan dan kemudian memimpin doa tanda syukur kepada Allah SWT. Setelah itu pohon ditanam oleh beliau untuk lebih menandai peristiwa.

Masjid Tahir 2 Masjid baru AHMADIYAH di London

Setelah memimpin doa di Masjid, Huzur mengadakan audiensi dengan Muslim Ahmadi lokal, dimana beliau mendesak mereka untuk selalu ingat tujuan sebenarnya dari sebuah Masjid. Beliau mengingatkan mereka bahwa Masjid harus menjadi tempat kesucian lahir dan batin. Dan beliau mengatakan bahwa Ahmadi Muslim harus selalu menjaga suasana saling mencintai dan kasih sayang, yang mana hal itu menggambarkan ajaran Islam damai kepada dunia.

Setelah pertemuan pribadi antara Huzur dan pejabat lokal, resepsi resmi pembukaan Masjid dimulai pada pukul 18:40. Dalam sambutannya, Ketua Ahmadiyah lokal, Bapak Naseem Butt berbicara tentang bagaimana Masjid tersebut telah didanai sepenuhnya oleh Jemaah Muslim Ahmadiyah sendiri. Beliau mengatakan sejumlah wanita bahkan menyumbangkan perhiasan mereka sementara anak-anak kecil menawarkan uang saku mereka untuk membantu pendaanaan Masjid.

Tahir 3 Masjid baru AHMADIYAH di London

Heidi Alexander MP, mengucapkan selamat kepada Jamaah Ahmadiyah pada Pembukaan Masjid tersebut. Beliau berharap Jamaah Ahmadiyah baik dan mengatakan bahwa beliau kedepan akan bekerjasama dengan Ahmadiyah.
Sir Steve Bullock, Walikota Lewisham, mengatakan bahwa ia mengenal bangunan sebelumnya yang telah diubah menjadi Masjid, yang dipakai sebagai kantor untuk dewan setempat. Beliau mengucapkan selamat kepada Ahmadiyah dan mengatakan bahwa memiliki tempat ibadah untuk komunitas manapun adalah hal yang sangat penting dan merupakan sarana untuk pertumbuhannya.
Heidi Alexander MP dan Sir Steve Bullock juga mengucapkan terimakasih kepada Jamaah Muslim Ahmadiyah telah mengadakan donasi amal untuk masyakat lokal sebagai sarana lebih lanjut untuk menandai pembukaan Masjid.
Tahir 4 290x198 Masjid baru AHMADIYAH di London

Acara ini diakhiri dengan pidato oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad dimana beliau mengatakan bahwa semua Masjid Ahmadiyah dibangun untuk menyembah Allah dan untuk melayani kemanusiaan.
Berbicara tentang pentingnya yang terakhir, beliau mengatakan:
“Sangat penting bahwa seorang muslim tidak boleh merampas hak orang lain, dan sebaliknya ia harus menyingkirkan semua perbedaan agama, suku atau etnis. Dan berusaha untuk menjadi sarana pendukung dan cinta untuk untuk semua orang lain. Jika seseorang datang kepada seorang muslim untuk meminta bantuan, maka itu adalah tugas dari muslim untuk mencoba memenuhi kebutuhan itu.”

Tahir 5 Masjid baru AHMADIYAH di London

Beliau juga berbicara tentang ketakutan beberapa orang atas penyelenggaraan Masjid dan Islam itu sendiri. Beliau mengatakan ketakutan seperti dibenarkan, karena tindakan ekstrimis yang menghancurkan perdamaian dan keamanan masyarakat pada umumnya. Namun beliau menasehati bahwa tindakan seperti itu dilakukan oleh sebuah minoritas kecil dan sama sekali tidak sesuai dengan ajaran sebenarnya Islam. Beliau menambahkan:

“Perdamaian di masyarakat merupakan proses dua arah dan hanya dapat dibentuk jika semua pihak bekerja sama menuju rekonsiliasi bersama.”

Tahir 6 Masjid baru AHMADIYAH di London

Beliau menyimpulkan dengan menyerukan perdamaian akan didirikan di dunia. Beliau mengatakan:
“Hari ini kami, Jamaah Muslim Ahmadiyah mencoba untuk membawa perdamaian di dunia. Kami memainkan peran dan berusaha untuk memenuhi tanggung jawab kami dalam hal ini. Dan saya akan meminta anda semua untuk bergabung dengan kami dalam tugas ini.
Kita harus mengesampingkan keinginan pribadi kita sendiri, malah sebaliknya khawatir akan keadaan masa depan dan kesejahteraan generasi kita berikutnya. Kita harus menerapkan Selflessness (tidak mementingkan diri sendiri) daripada selfishness (egoisme). Ketika kita semua bergabung bersama-sama dan datang untuk menghormati perasaan masing-masing dan sentimen maka hanya suasana kasih sayang lah yang akan berkembang. Hal ini kemudian yang kita benar-benar akan lihat, sebuah masyarakat yang indah yang semua orang inginkan.
sumber : agama-islam.org

Kembali Masjid Baru Ahmadiyah diresmikan oleh Pemimpin Dunia Islam di London

Setelah di awal Pebruari 2012 Ahmadiyah meresmikan Masjid Tahir di Catford, London, kini Ahmadiyah kembali membangun Sebuah Masjid baru yang diresmikan oleh Hadrat Mirza Masroor Ahmad, Masjid Baitul Wahid di Feltham, London.
Berikut Press Release yang kami terjemahkan dari Alislam.org

Masjid Baru Ahmadiyah diresmikan oleh Pemimpin Dunia Islam di London

Mirza Masroor Ahmad mengatakan bahwa Alquran merupakan kitab Perdamaian

Baitul Wahid 1 Kembali Masjid Baru Ahmadiyah diresmikan oleh Pemimpin Dunia Islam di London

Jamaah Muslim Ahmadiyah dengan bangga mengumumkan bahwa pada tanggal 24 Februari 2012, pemimpin dunianya, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad meresmikan Masjid Baitul Wahid di Feltham, London. Masjid ini secara resmi dibuka oleh Huzur saat beliau memimpin shalat Jumat di Masjid dengan khutbah yang disiarkan langsung ke seluruh dunia melalui MTA Internasional (Muslim Television Ahmadiyya)
Kemudian diikuti dengan resepsi resmi pada malam harinya yang dihadiri oleh sejumlah pejabat dan tamu termasuk anggota Parlemen Maria Macledo, Seema Malhotra, Anggota Dewan Amrit Mann dan Lord Eric Averbury.

Baitul Wahid 2 Kembali Masjid Baru Ahmadiyah diresmikan oleh Pemimpin Dunia Islam di London

Maria Macleod, Anggota Parlemen untuk Brentford dan Isleworth mengucapkan selamat kepada Jamaah Ahmadiyah atas peresmian Masjid Baitul Wahid. Beliau memberi dukungannya atas inisiatif perdamaian yang dijalankan oleh Ahmadiyah dan memuji peran Ahmadiyah dalam menciptakan masyarakat yang damai. Beliau juga berbicara tentang keprihatinannya pada penganiayaan yang terus terjadi terhadap para Ahmadi di Pakistan.
Seema Malhotra, Anggota Parlemen untuk Feltham dan Heston, mengatakan bahwa komunitas Ahmadiyah terus berjuang dalam mempertemukan orang-orang dari dari berbagai agama dan keyakinan. Beliau mengatakan nilai-nilai dari Ahmadiyah membuatnya menjadi salah satu contoh bagi orang lain untuk mengikutinya. dan beliau mengatakan bahwa beliau yakin Masjid baru tersebut akan mendidik dan mempererat hubungan masyarkat setempat.

Baitul Wahid 3 Kembali Masjid Baru Ahmadiyah diresmikan oleh Pemimpin Dunia Islam di London

Walikota London, Konselor Amrit Mann, menyebut Jamaah  Ahmadiyah di Hounslow sebagai contoh masyarakat. Beliau memuji motto Ahmadiyah ‘Love for all hatred for none (Cinta untuk semua, kebencian tidak untuk siapapun) dan komitmennya terhadap upaya kemanusiaan. Bapak Jagdish Sharma, MBE, Ketua Dewan Hounslow Borough, mengatakan Ahmadi Muslim memiliki keistimewaan dalam ‘taat hukum dan toleran’.
Acara diakhiri dengan sambutan dari Khalifah Kelima Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, dimana beliau berbicara tentang berbagai masalah berdasarkan ajaran Islam hakiki.

Ketika orang-orang terbunuh di Afganistan karena dugaan pembakaran Kitab suci Alquran, beliau menjelaskan bahwa Islam tidak tidak mengizinkan kekerasan dengan sewenang-wenang atau balas dendam dalam bentuk apapun. Beliau mengatakan:
Alquran menyerukan pembentukan perdamaian. Alquran mengajak umat Islam untuk bertindak penuh kasih sayang terhadap semua umat manusia.

Baitul Wahid 4 Kembali Masjid Baru Ahmadiyah diresmikan oleh Pemimpin Dunia Islam di London 

Huzur juga menyebut potensi kekhawatiran masyarakat setempat dari pembangunan Masjid. Menanggapi semua kekhawatiran tersebut, beliau mengatakan:
Masjid ini dibangun hanya untuk menyembah Allah dan sebagai sarana untuk mengembangkan cinta, kasih sayang dan perdamaian. Kami tidak memiliki tujuan lain, dan tidak akan pernah.Setiap Muslim sejati tidak pernah menginginkan ketidakadilan atau penderitaan bagi orang lain karena itu akan bertentangan dengan apa yang Alquran dan Nabi Muhammad saw ajarkan.”
Huzur berbicara tentang upaya berkelanjutan Jamaah Muslim Ahmadiyah untuk mempromosikan perdamaian dan untuk membantu melayani kemanusiaan. Beliau berkata:
Kapanpun dan dimanapun kita dipanggil untuk membantu upaya-upaya baik atau dalam pelayanan kepada umat manusia, kita harus mengindahkan panggilan tersebut dan berlari untuk ikut serta dalam tindakan-tindakan yang baik. Kita melakukannya bukan karena ada kepentingan pribadi, tetapi semata-mata karena keinginan untuk mencari ridho Allah dan kedekatanNya.”

Baitul Wahid 5 Kembali Masjid Baru Ahmadiyah diresmikan oleh Pemimpin Dunia Islam di London 

Khalifah juga berbicara tentang kekagumannya terhadap nilai-nilai kedilan dan persamaan di Inggris. Berbicara tentang bagaimana mengurus perizinan masjid telah diberikan setelah meminta banding. Huzur mengatakan:
Pada akhirnya kami diberi izin untuk membangun masjid ini. Dan ini adalah karena – seperti telah saya katakan berkali-kali – bahwa di sini, di Inggris sistem pemerintahannya adil dan salah satunya memberikan hak kepada warga negaranya. Kami, Ahmadi Muslim selalu berdoa agar Allah taala memungkinkan pemerintah adil bisa didirikan di seluruh dunia.”
Baitul Wahid 6 Kembali Masjid Baru Ahmadiyah diresmikan oleh Pemimpin Dunia Islam di London 

Khalifah mengakhiri dengan berbicara tentang keprihatinannya terhadap keadaan dunia saat ini. Beliau mengatakan:
Dunia saat ini penuh dengan bahaya dan kekacauan. Kita duduk di sebuah titik yang sangat kritis dan karenanya ada kebutuhan mendesak bagi kita untuk mengingat Pencipta kita dan menjalankan semua hak-hak-Nya. Sebagaimana kita berdiri diambang bencana kita semua harus bergabung bersama-sama dalam upaya untuk mencegah bencana besar yang akan menimpa kita.
Setiap individu dalam sebuah masyarakat, terlepas dari latar belakangnya, memiliki peran untuk dijalankannya. Kita perlu memperingatkan para pemimpin dan pemerintah kita atas bahaya saat ini. Sebaliknya jika kita gagal dalam tugas ini dan terjadi Perang Dunia Ketiga, maka kehancuran mengerikan yang akan menimpa kita akan menjadi jelas dan terbentang di hadapan kita. Kita harus peduli terhadap generasi masa depan kita dan tidak dihabiskan hanya oleh kepentingan pribadi kita sendiri.
Baitul Wahid 7 Kembali Masjid Baru Ahmadiyah diresmikan oleh Pemimpin Dunia Islam di London 

Pada kesempatan itu juga, Huzur meluncurkan sebuah plakat peringatan dan menanam pohon untuk lebih menandai peresmian masjid. Huzur juga mengadakan pertemuan pribadi dengan sejumlah pejabat. (terj. KAJ)

22 Deer Park Road, London, SW19 3TL UK
Tel/Fax: 020 8544 7613 Mob: 077954 90682 Email: press@ahmadiyya.org.uk Press Secretary AMJ International
Short URL of this page to share: www.alislam.org/e/1605

Sumber: Alislam.org

Rabu, 29 Februari 2012

ADAKAH YANG SALAH DENGAN KEBERAGAMAN?

Sempat terlintas dalam benak kita, “mengapa harus ada keberagaman?”. Jawabann  ya sederhana saja. Tak mungkin sesuatu dikatakan tinggi jika tidak ada yang pendek. Tak mungkin ada yang dikatakan kuat jika tak ada yang lemah. Keberagaman atau perbedaan merupakan sesuatu yang lumrah dalam kehidupan masyarakat. Tak heran jika seseorang berbeda satu dengan lainnya. Entah itu berbeda sifat, sikap ataupun pemikiran. Tak perlu jauh - jauh melihat ke Negara lain, kita lihat saja Negara kita tercinta, Indonesia. Semboyan Negara Indonesia yang berbunyi, Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu jua) telah menyiratkan bahwa Indonesia memiliki keberagaman. Keberagaman tersebut berupa suku, agama, ras dan adat istiadat.

            Adanya keberagaman dalam kehidupan masyarakat menimbulkan warna – warni dalam kehidupan. Bayangkan saja jika semua yang kita lihat sama, semua yang kita pikirkan sama. Tak akan ada pertukaran pikiran, tak akan ada diskusi dan tak akan ada musyawarah untuk mencapai mufakat. Tak hanya itu, terkadang keberagaman menyeret kita pada situasi yang tak begitu baik. Katakanlah saja keberagaman membawa kita pada situasi sulit yang seharusnya tak pernah terjadi pada manusia sebagai makhluk yang berakal. Manusia diberikan akal dan pikiran yang mampu dijalankan dengan baik. Akal dan pikiran tersebut di produksi oleh otak dan diteruskan oleh saraf anggota badan. Keberadaan akal dan pikiran pun perlu ditunjang dengan perasaan dan naluri. Mengapa demikian? Karena kita sebagai manusia memiliki batasan – batasan yang disebut nilai dan norma.

            Akhir – akhir ini banyak peristiwa – peristiwa yang membuat hati kita miris melihatnya. Perlakuan yang melampaui batas kemanusiaan yang sepantasnya dikatakan kriminalitas marak terjadi atas dasar perbedaan paham dan keberagaman. Sebagai contoh kecil saja, anggota jemaat Ahmadiyah Indonesia yang sangat rutin menerima serangan – serangan baik fisik maupun mental dari sesamanya. Hal ini terjadi atas motif perbedaan paham mengenai Islam yang sampai sekarang diperselisihkan dan tak kunjung reda. Lalu, adakah yang salah dengan perbedaan? Bukankah perbedaan itu adalah rahmat? Pantaskah HAM diterobos dengan alasan perbedaan?

            Di media massa seperti surat kabar, televisi dan internet, telah beredar tayangan – tayangan kekerasan dan perbuatan anarkisme dari masyarakat anti – ahmadiyah yang bersikeras ingin membubarkan ahmadiyah. Anggota ahmadiyah diusir dari rumahnya sendiri, tempat tinggalnya sendiri yang secara hukum memang miliknya. Di kejar – kejar oleh amukan massa yang menyuarakan asma Allah di tengah – tengah kekerasannya. Lalu, dimanakah kedamaian yang selalu dijunjung tinggi oleh ajaran islam? Dimanakah letak ukhuwah islamiyah yang menjadi teladan dari Rasulullah, SAW? Dan dimanakah Hak Azasi Manusia yang seharusnya diperhatikan?

            Baru beberapa bulan yang lalu, terdengar kembali berita yang lagi – lagi membuat hati kita miris mendengarnya. Minggu, pukul 09.00 malam salah satu rumah warga ahmadiyah di kecamatan Sumbawa diserang massa. Satu keluarga tersebut di evakuasi dan menetap sementara di Polres Sumbawa besar. Rumah mereka dirusak dan dihancurkan. Terdengar pekikan asma Allah di sela – sela lemparan batu. Perbuatan yang sesungguhnya tidak mencerminkan ajaran islam yang cinta damai. Anggota ahmadiyah terseret lagi dalam satu ironi. Ironi yang tak kunjung berakhir. Patutkah mereka diperlakukan secara anarkis karena alasan perbedaan? Salahkah perbedaan? Kembali lagi ke semboyan Negara Indonesia yaitu , bhineka tunggal ika yang perlu kita renungkan bersama – sama. Dan penegakan HAM yang perlu kita perhatikan bersama. Warga Ahmadiyah Indonesia adalah warga Negara Indonesia yang berhak hidup dan menjalani kehidupan dengan baik. Perlu diberikan kewenangan untuk hidup normal dan berbaur dengan sesamanya. Bukannya malah memberikan tekanan – tekanan yang mengisyaratkan kebencian. Kini kita renungkan kembali, pernahkah kekerasan – kekerasan yang dilancarkan kepada warga Ahmadiyah berbalas kekerasan? Tidak pernah. Karena warga Ahmadiyah sangat menghargai perbedaan dan memegang teguh prinsip ‘LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE’ (cinta untuk semua, kebencian tidak untuk seorangpun). Perbedaan yang terjadi tak perlu disalahkan karena perbedaan adalah rahmat. Rahmat yang diberikan Allah SWT kepada seluruh umat manusia agar kita sebagai manusia bisa menghargainya.

Oleh : Mumtazah Akhtar

Popular Posts

Tukeran Link

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons